• Latest
  • Trending
  • All
Ketika Kekuasaan Tidak Mengenal Ruang Kelas

Ketika Kekuasaan Tidak Mengenal Ruang Kelas

24 Juni 2026
Tujuh Bulan Pascabencana, Darwati A. Gani Desak Pemerintah Percepat Pemulihan Aceh

Tujuh Bulan Pascabencana, Darwati A. Gani Desak Pemerintah Percepat Pemulihan Aceh

24 Juni 2026

Menuju 2029, PAN Lhokseumawe Andalkan Kolaborasi Pemuda dan Ulama

18 Juni 2026

KUA Indra Makmu Sosialisasikan Aturan Baru Pencatatan Nikah, Libatkan Keuchik hingga Imum Mukim

17 Juni 2026

Muharram 1448 H: Aceh Timur di Persimpangan Sejarah, Meneguhkan Hijrah Menuju Peradaban

14 Juni 2026

HMPS BSA UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Raker

14 Juni 2026

PII Pidie Jaya Tagih Janji Perubahan Bupati

14 Juni 2026
Dari Abrasi ke Aksi: Saatnya Pelajar Aceh Menanam Harapan

Dari Abrasi ke Aksi: Saatnya Pelajar Aceh Menanam Harapan

8 Juni 2026
Fuad Samad Dorong Aceh Perkuat Negosiasi Blok Andaman

Fuad Samad Dorong Aceh Perkuat Negosiasi Blok Andaman

8 Juni 2026
Gubernur Aceh Bentuk Tim Teknis Pengembangan Blok South Andaman Mubadala Energy

Gubernur Aceh Bentuk Tim Teknis Pengembangan Blok South Andaman Mubadala Energy

8 Juni 2026
Pemko Banda Aceh Anggarkan Rp11,2 Miliar untuk Penataan Taman Sari dan Putroe Phang

Pemko Banda Aceh Anggarkan Rp11,2 Miliar untuk Penataan Taman Sari dan Putroe Phang

8 Juni 2026
Illiza Sebut Banda Aceh Bangkit Berkat Kolaborasi

Illiza Sebut Banda Aceh Bangkit Berkat Kolaborasi

8 Juni 2026

PW PII Aceh Gelar Aksi Hijau di Pesisir Aceh Besar

6 Juni 2026
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
Rabu, Juni 24, 2026
  • Login
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN
No Result
View All Result
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
No Result
View All Result
Home Nasional

Ketika Kekuasaan Tidak Mengenal Ruang Kelas

Fazil by Fazil
24 Juni 2026
in Nasional, Opini
0
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Jumlah Besar yang Tak Pernah Menjadi Kekuatan

ADVERTISEMENT

Oleh : Dra. Tisara, M.S. (Guru Ahli Madya pada SMA Negeri 1 Krueng Barona Jaya, Aceh Besar)

BacaJuga

Talkshow S.A.F.E. oleh DEMA FPSI: Mahasiswa Lebih Berani Hadapi Pelecehan Verbal

Kekhususan yang Dikhianati : Krisis Epistemik dan Moral Kepemimpinan Aceh

Generasi Scroll atau Generasi Berprestasi?

acehvoice.net – Aceh Besar – Ada sebuah ironi besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Guru adalah profesi dengan jumlah terbesar di negeri ini.

ADVERTISEMENT

Mereka tersebar dari kota-kota besar hingga pelosok desa, dari sekolah unggulan hingga sekolah yang berdiri di tepian sungai dan kaki gunung. Mereka mendidik jutaan anak bangsa setiap hari, membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menjaga nyala masa depan republik.

Namun anehnya, ketika kebijakan pendidikan dirumuskan, suara guru justru sering terdengar paling pelan.

Mereka hadir di ruang kelas, tetapi absen di ruang kekuasaan.
Mereka menjadi pelaksana kebijakan, tetapi jarang menjadi penentu arah kebijakan.
Mereka diminta mencerdaskan bangsa, tetapi sering tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

ADVERTISEMENT

Di sinilah paradoks pendidikan Indonesia bermula.

Lebih ironis lagi, tidak sedikit kebijakan pendidikan lahir dari tangan-tangan yang bahkan tidak pernah mengalami denyut kehidupan sebagai guru. Banyak pengambil keputusan memahami pendidikan hanya melalui laporan, angka statistik, presentasi, dan dokumen birokrasi. Mereka mengenal pendidikan dari meja rapat, bukan dari ruang kelas.

Padahal pendidikan bukan sekadar angka kelulusan, bukan sekadar target administratif, dan bukan sekadar indikator kinerja yang dipresentasikan di hadapan atasan.

Pendidikan adalah perjumpaan manusia dengan manusia.

Pendidikan adalah pergulatan nilai, karakter, dan harapan.
Pendidikan adalah dunia yang hanya benar-benar dipahami oleh mereka yang pernah berdiri di depan kelas, menghadapi beragam karakter murid, merasakan keterbatasan sarana, serta menyaksikan secara langsung bagaimana masa depan dibentuk setiap hari.

Ketika kebijakan dirancang oleh mereka yang jauh dari realitas ruang kelas, maka yang lahir sering kali bukan solusi, melainkan beban baru.

Guru dipaksa beradaptasi dengan perubahan kurikulum yang silih berganti.
Guru dibebani administrasi yang semakin rumit.
Guru dituntut memenuhi berbagai indikator formal yang sering kali menggerus waktu untuk mendidik.

Akibatnya, guru semakin sibuk mengurus dokumen daripada mendampingi peserta didik.
Mereka semakin banyak mengisi formulir daripada membangun karakter.
Mereka semakin sering berhadapan dengan sistem daripada berhadapan dengan manusia.
Inilah tragedi birokratisasi pendidikan yang berlangsung perlahan tetapi sistematis.

Dalam situasi seperti itu, publik kemudian bertanya: mengapa guru tidak mampu menunjukkan kekuatan kolektifnya?

Mengapa profesi terbesar ini tampak lemah ketika kebijakan yang merugikan mereka terus bermunculan?

Jawabannya tidak sederhana.
Kekuatan tidak pernah ditentukan oleh jumlah semata.
Sejarah dunia menunjukkan bahwa banyak kelompok besar tetap tidak berdaya ketika kehilangan kesadaran kolektif, keberanian moral, dan kepemimpinan perjuangan.

Demikian pula dengan guru.
Organisasi profesi guru memang banyak. Anggotanya mencapai jutaan orang. Struktur organisasinya menjangkau hingga pelosok negeri.

Tetapi organisasi yang besar tidak otomatis menjadi organisasi yang kuat. Kekuatan organisasi tidak diukur dari banyaknya kartu anggota. Kekuatan organisasi diukur dari keberaniannya memperjuangkan martabat anggotanya.

Diukur dari kemampuannya mempengaruhi arah kebijakan publik.
Diukur dari kesanggupannya mengatakan “tidak” ketika kebijakan menyimpang dari kepentingan pendidikan.

Sayangnya, dalam banyak kesempatan, organisasi profesi guru tampak lebih sibuk mengelola kegiatan seremonial daripada membangun gerakan intelektual dan advokasi kebijakan.

Pertemuan berlangsung.
Seminar diselenggarakan.
Foto-foto dipublikasikan.
Namun persoalan mendasar guru tetap berulang dari tahun ke tahun tanpa penyelesaian yang berarti.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian organisasi profesi terlihat semakin dekat dengan pusat kekuasaan sehingga perlahan kehilangan daya kritisnya.

Padahal organisasi profesi tidak dilahirkan untuk menjadi pengeras suara pemerintah.
Organisasi profesi lahir untuk menjadi penjaga nurani profesi.
Menjadi mitra yang kritis.
Menjadi penyeimbang kekuasaan.
Menjadi benteng terakhir ketika kepentingan anggotanya terancam.

Ketika organisasi lebih sibuk menjaga kenyamanan hubungan dengan penguasa daripada memperjuangkan aspirasi anggotanya, maka yang hilang bukan hanya keberanian organisasi, tetapi juga kepercayaan para guru terhadap rumah perjuangannya sendiri.

Di sisi lain, budaya birokrasi yang panjang juga melahirkan persoalan psikologis yang tidak ringan.

Banyak guru akhirnya memilih diam.
Mereka khawatir kritik dianggap sebagai pembangkangan.

Perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman.
Suara kritis sering dipersepsikan sebagai sikap tidak loyal.
Akibatnya lahirlah budaya diam yang semakin mengakar.

Padahal setiap perubahan besar dalam sejarah peradaban selalu dimulai dari keberanian untuk menyampaikan kebenaran.

Tidak ada profesi yang dihormati hanya karena jumlahnya besar.
Profesi dihormati karena keberanian moralnya.
Karena integritasnya.
Karena solidaritasnya.
Karena kesediaannya mempertahankan nilai yang diyakininya benar.

Guru sesungguhnya adalah kelompok intelektual terbesar dalam sebuah bangsa.
Mereka mengajarkan murid untuk berpikir kritis.
Mengajarkan keberanian bertanya.
Mengajarkan pentingnya kebenaran.
Karena itu, sungguh menjadi ironi ketika para pendidik justru kehilangan ruang untuk menyuarakan kebenaran yang mereka ajarkan setiap hari.

Bangsa ini terlalu sering memuji guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Tetapi pujian tidak pernah cukup.
Retorika penghormatan tidak akan menyelesaikan persoalan pendidikan.
Yang dibutuhkan guru bukan belas kasihan.
Yang dibutuhkan adalah penghormatan yang diwujudkan dalam kebijakan.

Kebijakan yang lahir dari pemahaman terhadap realitas sekolah.
Kebijakan yang melibatkan guru sebagai subjek utama.
Kebijakan yang menjadikan pengalaman ruang kelas sebagai sumber pengetahuan yang sah dalam proses pengambilan keputusan.

Sebab pendidikan tidak akan pernah maju jika suara guru terus ditempatkan di pinggir meja kekuasaan.

Negara yang mengabaikan guru sesungguhnya sedang mengabaikan masa depannya sendiri. Dan kekuasaan yang tidak mengenal ruang kelas pada akhirnya akan melahirkan kebijakan yang jauh dari kebutuhan pendidikan yang sesungguhnya.

Ketika suara guru tidak lagi didengar, sesungguhnya yang kehilangan arah bukanlah guru.
Melainkan negara.
Dan ketika organisasi profesi lebih memilih kenyamanan daripada perjuangan, yang tersisa hanyalah angka-angka besar tanpa daya, struktur besar tanpa pengaruh, dan jutaan guru tanpa kekuatan politik yang sepadan dengan perannya dalam membangun bangsa.

Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar:
Apakah organisasi guru masih menjadi rumah perjuangan yang menjaga martabat profesi, atau telah berubah menjadi sekadar alamat administratif yang ramai oleh anggota, tetapi sunyi oleh keberanian?
Sejarah akan mencatat jawabannya.

Tags: GuruMoralPahlawan Tanpa JasaParadoks pendidikanPendidikan
SendShare197Tweet123Share
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Talkshow S.A.F.E. oleh DEMA FPSI: Mahasiswa Lebih Berani Hadapi Pelecehan Verbal

by Fazil
22 Mei 2026
0
1.4k

acehvoice.net —Banda Aceh — 21 Mei 2026, DEMA Fakultas Psikologi...

Kekhususan yang Dikhianati : Krisis Epistemik dan Moral Kepemimpinan Aceh

by Fazil
26 April 2026
0
1.4k

Oleh : Dr. Drs. T.M. Jamil, M.Si, Ph.DKetua Program Doktor...

Generasi Scroll atau Generasi Berprestasi?

by Fazil
27 Februari 2026
0
1.4k

Penulis: Balqis Salsabilla, Siswa Negeri 3 Banda Aceh acehvoice.net —...

SEKOLAH DAN MADRASAH TIDAK LAGI SEPERTI NAMANYA

by Fazil
14 Agustus 2025
0
1.4k

Acehvoice.net - Dalam kehidupan sebuah bangsa, pendidikan adalah fondasi yang...

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kapan PPPK 2024 dibuka? Berikut Penjelasan Menpan-RB

Operator Layanan Operasional PPPK: Peran, Tanggung Jawab, dan Keterampilan yang Dibutuhkan

4 September 2024
Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

28 Agustus 2024
Vidu AI Studio: Solusi Cerdas untuk Pembuatan dan Pengeditan Video

Vidu Studio: Tutorial Menggunakan Langkah demi Langkah

26 Agustus 2024
PPPK Bisa Ikut Seleksi CASN Agustus 2024

Jadwal Lengkap Seleksi CPNS 2024 Diumumkan

1

Final, DPP PA Tetapkan Al-Farlaky Calon Bupati Aceh Timur

1
Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

1
Ketika Kekuasaan Tidak Mengenal Ruang Kelas

Ketika Kekuasaan Tidak Mengenal Ruang Kelas

24 Juni 2026
Tujuh Bulan Pascabencana, Darwati A. Gani Desak Pemerintah Percepat Pemulihan Aceh

Tujuh Bulan Pascabencana, Darwati A. Gani Desak Pemerintah Percepat Pemulihan Aceh

24 Juni 2026

Menuju 2029, PAN Lhokseumawe Andalkan Kolaborasi Pemuda dan Ulama

18 Juni 2026
ADVERTISEMENT
acevoice.net

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Menu Navigasi

  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In