acehvoice.net – JOMBANG – Kabar membanggakan datang dari arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Ulama asal Aceh, Tgk. KH Nuruzzahri Yahya atau yang akrab disapa Waled Nu, terpilih sebagai salah satu dari sembilan anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) yang akan menentukan arah kepemimpinan NU untuk masa khidmah 2026–2031.
Berdasarkan hasil penelusuran acehvoice.net pada sistem rekapitulasi nasional tabulasi suara yang diumumkan dalam Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 NU, Ahad (30/8/2026), Waled Nu memperoleh 477 suara atau 10,1 persen, menempatkannya di posisi kedua peraih suara terbanyak dari sembilan ulama yang terpilih.
Posisi pertama ditempati KH Nurul Huda Djazuli dengan 485 suara. Selanjutnya berturut-turut AG Dr. KH Baharuddin HS, MA dengan 392 suara, KH Miftachul Akhyar 350 suara, KH Afifuddin Muhajir 339 suara, KH Anwar Iskandar 326 suara, KH Anwar Manshur 303 suara, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj 273 suara, dan Dr. KH Abun Bunyamin, MA dengan 268 suara.
Terpilihnya Waled Nu menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Aceh. Sebab, di tengah forum permusyawaratan tertinggi NU yang mempertemukan ulama dan perwakilan Nahdliyyin dari berbagai daerah di Indonesia, nama ulama Aceh kembali mendapat tempat dalam forum penting yang akan menentukan arah organisasi lima tahun ke depan.
Bagi Aceh, capaian tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun lebih dari sekadar kebanggaan daerah, kepercayaan yang diberikan kepada Waled Nu memperlihatkan bahwa ulama dari Aceh memiliki ruang dan kontribusi dalam percaturan keumatan di tingkat nasional.
Waled Nu merupakan ulama asal Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh. Ia lahir pada 1951 dan dikenal luas sebagai pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga. Dalam perjalanan keulamaannya, ia juga pernah dipercaya sebagai Rais Syuriah PWNU Aceh.
Kehadiran Waled Nu dalam jajaran AHWA juga tidak datang secara tiba-tiba. Sosoknya telah lama dikenal dalam lingkungan pendidikan dayah dan NU di Aceh. Ia aktif dalam pembinaan keagamaan dan pendidikan pesantren serta menjadi salah satu ulama yang memiliki pengaruh dalam kehidupan keagamaan masyarakat Aceh.
Hasil yang dikumpulkan tim acehvoice.net, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh juga mencatat Waled Nu sebagai pimpinan Dayah Ummul Ayman Samalanga dan salah satu tokoh penting NU Aceh. Ia bahkan pernah dipercaya kembali menduduki posisi Rais Syuriah PWNU Aceh dalam Konferensi Wilayah NU Aceh.
Kepercayaan muktamirin terhadap Waled Nu menjadi semakin bermakna karena mekanisme AHWA memiliki posisi strategis dalam Muktamar ke-35 NU. Kesembilan ulama yang terpilih akan bermusyawarah untuk menentukan Rais Aam PBNU dan memiliki peran penting dalam proses penentuan kepemimpinan PBNU masa khidmah 2026–2031.
Muktamar ke-35 NU sendiri berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dengan mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.” Muktamar menjadi forum tertinggi NU untuk merumuskan arah organisasi, program lima tahun ke depan, serta menentukan kepemimpinan baru.
Di tengah dinamika Muktamar yang menjadi perhatian Nahdliyyin se-Indonesia, posisi Waled Nu sebagai peraih suara terbanyak kedua menunjukkan bahwa suara dan kepercayaan terhadap ulama Aceh mendapatkan tempat yang cukup kuat dalam forum tersebut.
Bagi masyarakat Aceh, khususnya keluarga besar NU dan pesantren, terpilihnya Waled Nu di jajaran AHWA dapat dipandang sebagai bagian dari kontribusi Aceh dalam menjaga tradisi keulamaan Nusantara.
Yang lebih penting, amanah tersebut membawa tanggung jawab besar. Sembilan anggota AHWA tidak hanya membawa nama daerah atau pesantren masing-masing, tetapi membawa mandat keulamaan untuk ikut menentukan arah perjalanan Nahdlatul Ulama dalam lima tahun mendatang.
Dengan demikian, capaian Waled Nu di Muktamar ke-35 NU bukan semata tentang 477 suara, tetapi tentang sebuah kepercayaan yang diberikan oleh muktamirin kepada seorang ulama dari Aceh untuk duduk bersama para kiai sepuh Nusantara dalam menjaga marwah, tradisi keilmuan, dan khidmah NU bagi umat dan bangsa.[]


























