• Latest
  • Trending
  • All

Kartini dalam Hegemoni Seremonial : Dekonstruksi Kegagalan Kebijakan Gender di Aceh

21 April 2026
Pimpin Upacara TMMD, Bupati Al-Farlaky Tekankan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat

Pimpin Upacara TMMD, Bupati Al-Farlaky Tekankan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat

22 April 2026

Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama

21 April 2026

Marjoni Minta Polisi Usut Penyebar Berita Bohong ke Media

19 April 2026
Inovasi Cegah Diabetes Karya Mahasiswa FK USK Raih Penghargaan Nasional

Inovasi Cegah Diabetes Karya Mahasiswa FK USK Raih Penghargaan Nasional

16 April 2026

Bupati Aceh Timur Hadiri Halal Bihalal IKAPA, Tekankan Kebersamaan

16 April 2026

Al-Farlaky Dorong Regenerasi IKAPA dan Siapkan Dukungan Pembangunan Asrama

16 April 2026
PII Aceh Apresiasi Kinerja Bank Aceh Dorong Ekonomi Daerah

PII Aceh Apresiasi Kinerja Bank Aceh Dorong Ekonomi Daerah

16 April 2026
Aceh Siaga Bencana Hidrometeorologi hingga 20 April 2026

Aceh Siaga Bencana Hidrometeorologi hingga 20 April 2026

15 April 2026
Gubernur Aceh Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

Gubernur Aceh Mualem Tunjuk Nurlis Jadi Jubir

14 April 2026
Wagub Aceh Buka Rakor MPU 2026, Perkuat Sinergi Ulama dan Pemerintah

Wagub Aceh Buka Rakor MPU 2026, Perkuat Sinergi Ulama dan Pemerintah

14 April 2026

RUPS Bank Aceh Syariah 2025 Jadi Ajang Konsolidasi Pemegang Saham, Al-Farlaky Soroti Peran Ekonomi Daerah

13 April 2026

Hadiri RUPS Bank Aceh Syariah, Bupati Al-Farlaky Dorong Penguatan Tata Kelola Perusahaan

13 April 2026
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
Kamis, April 23, 2026
  • Login
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN
No Result
View All Result
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
No Result
View All Result
Home Opini

Kartini dalam Hegemoni Seremonial : Dekonstruksi Kegagalan Kebijakan Gender di Aceh

Fazil by Fazil
21 April 2026
in Opini
0
499
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. Dr. Teuku Muhammad Jamil, M.Si. Pengamat Sosial dan Akademisi USK Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

ADVERTISEMENT

acehvoice.net — Banda Aceh — Setiap tanggal 21 April, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota secara rutin mereproduksi perayaan Hari Kartini dalam format yang nyaris identik dari tahun ke tahun: seremoni, seminar, lomba simbolik, dan publikasi citra kelembagaan. Dalam narasi resmi yang dibangun, perempuan seolah telah ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang setara. Namun, konstruksi narasi tersebut justru menyembunyikan problem struktural yang belum terselesaikan.

BacaJuga

MENGGALI INTERSEKSIONALITAS DALAM ISU GENDER DAN KEADILAN SOSIAL DALAM ACEH

Di sinilah letak persoalan mendasarnya: terjadi disjungsi antara representasi simbolik dan realitas kebijakan. Negara—dalam hal ini pemerintah daerah—cenderung menginstrumentalisasi figur Kartini sebagai legitimasi moral, tanpa diikuti oleh transformasi kebijakan yang substantif. Kartini direduksi menjadi ikon seremonial, sementara gagasan emansipatorisnya justru dieliminasi dari ruang pengambilan keputusan.

ADVERTISEMENT

Jika ditelaah secara lebih empiris, kinerja Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) di berbagai daerah di Aceh memperlihatkan kecenderungan administratif-prosedural yang kuat, tetapi lemah dalam capaian transformatif. Program-program yang dijalankan lebih berorientasi pada output kegiatan ketimbang outcome perubahan sosial. Pertanyaan krusial yang jarang dijawab secara transparan adalah: sejauh mana intervensi kebijakan tersebut mampu meningkatkan bargaining position perempuan dalam struktur sosial, ekonomi, dan politik?

Ketiadaan indikator dampak yang jelas menunjukkan bahwa logika birokrasi masih terjebak pada orientasi pelaporan, bukan perubahan. Dalam perspektif kebijakan publik, ini mencerminkan kegagalan dalam membangun evidence-based policy yang berorientasi pada keadilan gender.

Lebih problematis lagi, sejumlah produk regulasi daerah justru memperkuat mekanisme kontrol terhadap perempuan. Atas nama moralitas dan ketertiban sosial, tubuh dan ruang gerak perempuan diatur secara ketat, sementara negara belum optimal dalam menjamin perlindungan terhadap perempuan dari kekerasan struktural maupun domestik. Paradoks ini menegaskan bahwa pendekatan kebijakan yang diambil masih bersifat paternalistik—bukan emansipatoris.

ADVERTISEMENT

Dalam konteks politik lokal, representasi perempuan juga masih bersifat minimal dan cenderung simbolik. Kehadiran perempuan dalam jabatan strategis sering kali tidak diikuti dengan distribusi kekuasaan yang setara dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, perempuan dihadirkan sebagai complementary actors, bukan sebagai decision makers. Ini menunjukkan adanya hambatan struktural yang belum diatasi secara serius oleh pemerintah daerah.

Sektor pendidikan, yang seharusnya menjadi arena transformasi kesadaran kritis, justru turut mereproduksi banalitas pemaknaan Kartini. Kurikulum dan praktik pembelajaran masih menempatkan Kartini dalam kerangka estetika-kultural—kebaya, lomba, dan seremoni—bukan sebagai pemikir kritis yang menggugat ketidakadilan sosial. Akibatnya, generasi muda mengalami reduksi makna : Kartini dipahami sebagai simbol, bukan sebagai epistemologi perlawanan.

Jika pola ini terus berlangsung, maka yang sebenarnya diproduksi oleh negara adalah ilusi emansipasi. Sebuah konstruksi semu yang menampilkan kesetaraan sebagai sesuatu yang telah dicapai, padahal secara struktural masih jauh dari realitas.

Oleh karena itu, kritik ini perlu ditegaskan secara terbuka: Pemerintah Aceh dan seluruh jajaran pemerintah daerah harus menghentikan praktik komodifikasi Hari Kartini sebagai instrumen pencitraan tahunan. Yang dibutuhkan bukan reproduksi seremoni, melainkan keberanian untuk melakukan reposisi kebijakan secara fundamental.

Pertama, diperlukan pergeseran dari pendekatan simbolik menuju intervensi berbasis dampak yang terukur, khususnya dalam peningkatan akses pendidikan, kemandirian ekonomi, dan perlindungan hukum bagi perempuan.

Kedua, pemerintah daerah harus membuka ruang kepemimpinan perempuan secara substantif dengan memastikan keterlibatan aktif perempuan dalam seluruh tahapan siklus kebijakan—dari perumusan hingga evaluasi.

Ketiga, reformasi regulasi menjadi keharusan, dengan meninggalkan pendekatan kontrolistik dan beralih pada kerangka kebijakan yang berorientasi pada keadilan dan hak asasi.

Keempat, sektor pendidikan perlu didorong menjadi ruang produksi kesadaran kritis, dengan mengintegrasikan perspektif gender secara sistematis dalam kurikulum dan praktik pembelajaran.

Kartini tidak pernah mengajarkan perayaan tanpa perubahan. Ia mengajarkan keberanian berpikir, keberanian menggugat, dan keberanian melampaui batas-batas yang dikonstruksi oleh kekuasaan.

Jika pemerintah daerah tidak mampu—atau tidak memiliki kehendak politik—untuk menghadirkan perubahan tersebut, maka setiap peringatan Hari Kartini di Aceh tidak lebih dari ritual tahunan yang menormalisasi kegagalan. Sudah saatnya publik berhenti menjadi audiens yang pasif.

Dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar : untuk siapa Kartini terus dirayakan, dan siapa yang sesungguhnya ditinggalkan?

Sagoe Kampus USK, 21 April 2026.

Tags: Hari KartiniKartiniKebijakan GenderKesetaraan GenderPerempuan Aceh
SendShare200Tweet125Share
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

MENGGALI INTERSEKSIONALITAS DALAM ISU GENDER DAN KEADILAN SOSIAL DALAM ACEH

MENGGALI INTERSEKSIONALITAS DALAM ISU GENDER DAN KEADILAN SOSIAL DALAM ACEH

by Fazil
19 November 2024
0
1.5k

Oleh: Alqadri Naufal Akbar, Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry Banda...

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kapan PPPK 2024 dibuka? Berikut Penjelasan Menpan-RB

Operator Layanan Operasional PPPK: Peran, Tanggung Jawab, dan Keterampilan yang Dibutuhkan

4 September 2024
Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

28 Agustus 2024
Vidu AI Studio: Solusi Cerdas untuk Pembuatan dan Pengeditan Video

Vidu Studio: Tutorial Menggunakan Langkah demi Langkah

26 Agustus 2024
PPPK Bisa Ikut Seleksi CASN Agustus 2024

Jadwal Lengkap Seleksi CPNS 2024 Diumumkan

1

Final, DPP PA Tetapkan Al-Farlaky Calon Bupati Aceh Timur

1
Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

1
Pimpin Upacara TMMD, Bupati Al-Farlaky Tekankan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat

Pimpin Upacara TMMD, Bupati Al-Farlaky Tekankan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat

22 April 2026

Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama

21 April 2026

Kartini dalam Hegemoni Seremonial : Dekonstruksi Kegagalan Kebijakan Gender di Aceh

21 April 2026
ADVERTISEMENT
acevoice.net

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Menu Navigasi

  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In