Oleh: Mulyadi, S.H.I., M.Sos.
Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur
acehvoice.net – Aceh Timur – Setiap memperingati Hari Santri pada 22 Oktober, kita kembali mengenang peran ulama dan santri dalam perjalanan bangsa. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ikut menjaga martabat masyarakat, membangun kesadaran kebangsaan, dan mempertahankan kemerdekaan. Sejarah itu patut kita hormati. Namun, ada hal yang tidak kalah penting: apa yang sudah kita lakukan untuk meneruskan semangat perjuangan mereka?
Pertanyaan ini terasa relevan bagi kita di Aceh Timur, daerah yang tumbuh bersama tradisi keislaman dan pendidikan dayah. Kita memiliki warisan keilmuan, nilai-nilai agama, serta kearifan masyarakat yang patut dijaga. Akan tetapi, menjaga warisan tidak cukup dengan mengenangnya setiap tahun. Kita perlu memastikan bahwa nilai-nilai tersebut benar-benar hadir dalam cara kita mendidik anak, memperlakukan sesama, mengelola amanah, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.
Jangan sampai kita begitu bangga menceritakan kebesaran masa lalu, tetapi kurang berani membenahi keadaan hari ini.
Kesalehan yang Terasa dalam Kehidupan
Agama mengajarkan kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu semestinya dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita. Kesalehan bukan hanya urusan hubungan pribadi dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam hubungan antarmanusia.
Orang yang amanah, misalnya, akan menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Orang yang memahami keadilan tidak mudah memperlakukan orang lain secara sewenang-wenang. Begitu pula orang yang memiliki ilmu semestinya semakin sadar akan tanggung jawabnya, bukan merasa paling benar dan menutup diri dari nasihat.
Di sinilah pendidikan santri memiliki arti yang luas. Keberhasilan belajar agama tidak cukup dilihat dari banyaknya pengetahuan yang dikuasai. Ilmu itu juga harus membentuk sikap dan mendorong lahirnya perbuatan yang bermanfaat.
Peringatan Hari Santri akan lebih bermakna apabila setelahnya ada perubahan yang dapat dirasakan masyarakat. Bukan berarti kegiatan seremonial tidak penting, tetapi maknanya akan lebih kuat jika diikuti kesungguhan dalam memperbaiki kehidupan.
Terobosan Perubahan: Memutus Pola, Merawat Tradisi
Perubahan sering kali dibicarakan seolah-olah berlawanan dengan tradisi. Padahal, keduanya tidak harus dipertentangkan. Tradisi keislaman justru dapat menjadi landasan untuk menghadapi persoalan baru, selama kita bersedia berpikir, belajar, dan mengevaluasi cara-cara yang selama ini digunakan.
Yang perlu kita tinggalkan bukanlah akar tradisi, melainkan kebiasaan yang menghambat kemajuan. Kita perlu berani memperbaiki cara kerja yang tidak efektif, membangun pelayanan yang lebih baik, dan memberi ruang bagi pemikiran yang jernih.
Menghormati guru tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan santri. Namun, penghormatan itu tidak seharusnya membuat seseorang takut bertanya atau enggan menguji pemahamannya. Adab dan sikap kritis bukan dua hal yang saling meniadakan. Seseorang dapat menyampaikan perbedaan pendapat dengan santun, sebagaimana seseorang dapat menjaga tradisi sambil mencari cara yang lebih baik untuk menghadapi tantangan zaman.
Terobosan perubahan bukan berarti memutus akar tradisi, melainkan menghentikan pola-pola yang menghambat pertumbuhan. Bukan meninggalkan nilai, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam tindakan nyata.
Gagasan ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada kebiasaan yang masih baik, rawatlah. Jika ada cara yang sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, perbaikilah. Jika ada praktik yang merugikan orang banyak, jangan dipertahankan hanya karena sudah berlangsung lama.
Tradisi akan tetap dihormati ketika mampu memberi tuntunan, bukan ketika setiap kebiasaan dianggap tidak boleh dievaluasi.
Santri dan Masa Depan Aceh Timur
Dayah memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Aceh. Dari lingkungan inilah banyak orang belajar agama, membentuk akhlak, dan mengenal arti pengabdian. Peran tersebut perlu terus diperkuat agar santri mampu menghadapi persoalan masyarakat yang semakin beragam.
Santri tentu perlu mendalami ilmu agama. Pada saat yang sama, mereka juga perlu mengenal perkembangan teknologi, memahami persoalan sosial, mengembangkan keterampilan, dan belajar membangun usaha. Bekal tersebut bukan untuk mengurangi jati diri santri, melainkan agar ilmu yang dimiliki semakin luas manfaatnya.
Aceh Timur memiliki potensi dalam pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, dan usaha kecil. Potensi ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga berani menciptakan peluang. Santri dapat mengambil bagian melalui pendidikan, pendampingan masyarakat, kewirausahaan, dan pemanfaatan teknologi sesuai kemampuan masing-masing.
Namun, kita tidak boleh sekadar meminta generasi muda untuk mandiri tanpa menyediakan ruang bagi mereka untuk berkembang. Pemerintah, pemerintahan gampong, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat perlu bekerja bersama. Pelatihan harus sesuai kebutuhan, program pemberdayaan harus menjangkau orang yang tepat, dan hasilnya perlu dievaluasi secara terbuka.
Uang dan kegiatan yang telah dilaksanakan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat memperoleh keterampilan, apakah peluang usaha bertambah, dan apakah manfaat program benar-benar dirasakan.
Di sinilah nilai agama, pendidikan, dan pembangunan bertemu. Ketiganya akan saling menguatkan jika diarahkan pada tujuan yang sama: memperbaiki kehidupan manusia.
Perubahan Dimulai dari Hal yang Nyata
Membangun peradaban mungkin terdengar sebagai cita-cita yang besar. Namun, pelaksanaannya sering bermula dari hal-hal sederhana: mendidik anak dengan keteladanan, melayani masyarakat dengan jujur, menggunakan kewenangan secara bertanggung jawab, dan menyelesaikan masalah tanpa mengabaikan hak orang lain.
Di Indra Makmu dan kecamatan lain di Aceh Timur, semangat Hari Santri dapat diwujudkan melalui penguatan pendidikan keluarga, pembinaan generasi muda, kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan, serta kerja sama antara dayah, pemerintah, dan berbagai unsur masyarakat.
Kita juga perlu membiasakan diri menerima masukan. Tidak semua kritik disampaikan dengan cara yang tepat, tetapi kritik yang didasarkan pada fakta dan bertujuan memperbaiki keadaan patut dipertimbangkan. Menjaga keharmonisan bukan berarti menghindari persoalan. Terkadang, justru dengan membicarakan masalah secara terbuka dan santun, kita dapat menemukan jalan keluar yang lebih baik.
Perubahan tidak selalu membutuhkan program besar atau ungkapan yang muluk-muluk. Kadang-kadang, perubahan dimulai ketika seseorang bersedia mengakui kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan tidak mengulangi cara yang terbukti merugikan.
Jangan Berhenti pada Kebanggaan Sejarah
Kita tidak harus meninggalkan tradisi untuk menjadi masyarakat yang maju. Kita juga tidak perlu mengorbankan adab untuk membangun pemikiran kritis. Tradisi, ilmu, dan keterbukaan dapat berjalan bersama selama semuanya diarahkan untuk mencari kebenaran dan menghadirkan kemaslahatan.
Aceh Timur membutuhkan santri yang teguh dalam keyakinan, luas dalam pengetahuan, santun dalam pergaulan, serta berani mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Santri tidak cukup hanya menjadi saksi perubahan. Dengan ilmu dan pengabdiannya, mereka dapat menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Hari Santri seharusnya mengingatkan kita bahwa menghormati para ulama bukan semata-mata dengan menyebut nama dan mengenang jasa mereka. Penghormatan itu juga diwujudkan dengan melanjutkan kerja baik mereka: mendidik manusia, menjaga amanah, membela kebenaran, dan mengabdikan ilmu untuk kepentingan bersama.
Jangan hanya mewarisi kebesaran nama para ulama. Warisilah kesungguhan mereka dalam mendidik umat, keberanian mereka menjaga kebenaran, dan keikhlasan mereka mengabdi kepada masyarakat.
Selamat Hari Santri Nasional. Semoga tradisi keislaman yang kita jaga tidak berhenti sebagai kebanggaan masa lalu, tetapi terus tumbuh menjadi kekuatan untuk membangun Aceh Timur yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan berkeadilan.























