acehvoice.net – Banda Aceh – Keberhasilan program peningkatan kompetensi guru tidak semestinya hanya diukur dari sertifikat yang diperoleh peserta. Lebih dari itu, keberhasilan harus terlihat dari perubahan proses pembelajaran di kelas serta kemampuan peserta didik dalam menerima dan menggunakan ilmu yang diajarkan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh, Azhari, saat membuka Program Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Arab tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di lingkungan Kanwil Kemenag Aceh, Selasa, 20 Oktober 2026.
Azhari menegaskan, program peningkatan kompetensi guru perlu dilaksanakan secara berkala dan berkesinambungan, bukan sekadar kegiatan yang berlangsung sekali kemudian berhenti.
Menurutnya, Bahasa Arab memiliki posisi strategis dalam pendidikan Islam. Bahasa tersebut tidak hanya menjadi mata pelajaran di madrasah, tetapi juga menjadi salah satu kunci untuk memahami Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad SAW, serta khazanah keilmuan Islam.
“Bahasa Arab bukan sekadar mata pelajaran, tetapi juga kunci untuk memahami Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan khazanah keilmuan Islam yang agung,” ujar Azhari.
Ia mengatakan, Aceh yang sejak dahulu dikenal sebagai Serambi Mekkah sudah sepatutnya memiliki guru Bahasa Arab dengan kompetensi kebahasaan dan profesional yang tinggi.
Program Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Arab Angkatan I ini merupakan hasil kerja sama Kanwil Kemenag Aceh dengan Institut Khadim al-Haramain asy-Syarifain di Banda Aceh yang berafiliasi dengan Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud. Kegiatan tersebut diikuti guru Bahasa Arab dari Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dan berlangsung hingga 22 Oktober 2026.
Azhari menyampaikan bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas tenaga pendidiknya. Karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan madrasah.
“Kami meyakini bahwa mutu pendidikan tidak akan melampaui mutu gurunya. Guru adalah batu penjuru setiap upaya perbaikan pendidikan. Karena itulah program ini sangat penting,” katanya.
Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada keterampilan praktis yang dibutuhkan guru Bahasa Arab. Materi meliputi kemampuan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan imla’, termasuk penanganan kesalahan umum dalam pengucapan maupun struktur kalimat.
Selain itu, peserta juga mendapatkan penguatan terkait metode pengajaran Bahasa Arab, perancangan aktivitas pembelajaran di kelas, praktik langsung, serta contoh penerapan pembelajaran yang efektif.
Azhari berharap kegiatan tersebut menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan. Ia mendorong agar program serupa nantinya dapat menjangkau guru Bahasa Arab di berbagai kabupaten/kota di Aceh, termasuk guru Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Ia juga mengusulkan pembentukan tim pelatih lokal yang terdiri dari guru-guru Bahasa Arab terbaik di Aceh. Tim tersebut diharapkan mampu meneruskan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh melalui program sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Kami berharap kemitraan ini terus berlanjut dan semakin luas di masa mendatang. Jangkauannya diperluas kepada guru Bahasa Arab di kabupaten/kota lain di Provinsi Aceh, termasuk guru Madrasah Ibtidaiyah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Azhari turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud atas dukungan terhadap pengembangan Bahasa Arab dan pendidikan Islam, termasuk melalui kerja sama yang dilaksanakan di Aceh.
Sementara itu, Direktur Institut Khadim al-Haramain asy-Syarifain di Banda Aceh yang berafiliasi dengan Universitas Islam Imam Muhammad bin Su’ud, Ustadz Sa’id bin Khamis Al-Ghamidi, berharap pelatihan selama tiga hari tersebut dapat menjadi ruang pertemuan yang dilaksanakan secara berkala bagi para guru dan pemerhati Bahasa Arab.
Menurutnya, forum tersebut tidak hanya menjadi tempat mengikuti pelatihan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mempraktikkan Bahasa Arab, berdialog, bertukar pengalaman dalam bidang pendidikan, serta mendiskusikan berbagai gagasan dan tantangan pembelajaran.
Ia mengajak para peserta yang terdiri dari guru Bahasa Arab MTs dan MA se-Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar untuk aktif berpartisipasi dalam suasana akademik yang kondusif.
Dengan adanya program tersebut, Kanwil Kemenag Aceh berharap peningkatan kompetensi guru Bahasa Arab dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran dan kemampuan peserta didik di madrasah.


























