Renungan tentang kasih dan kebijaksanaan seorang ayah di antara fajar dan senja kehidupan
Oleh: Mulyadi, S.H.I., M.Sos
Rais Syuriah Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Pante Bidari
dan Sekretaris Asosiasi Penghulu Republik Indonesia Kabupaten Aceh Timur
⸻
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah:
Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil.”
(QS. Al-Isra: 24)
⸻
Dalam hamparan hayat yang berdesir antara fajar dan senja, ada satu sosok yang diamnya mengandung seribu petuah dan wujudnya kerap menjadi sendi yang tiada terganti dalam rumah tangga: Ayah.
Bukan semata ia melangkah dengan langkah tegap dan penuh ‘azam, melainkan bayang nurani yang menuntun makna sabar, teguh, serta kasih yang tidak banyak berkata. Dalam dirinya, terkandung lima peranan laksana pilar yang menegakkan bangunan kehidupan.
- Sebagai Abb (Ayah) – Sang Pemberi Nafkah dan Penopang Kehidupan
Seorang Abb, yang menyalakan tungku hayat dengan peluhnya sendiri; ditukarnya masa, tenaga, dan angan demi tawa anak-anak yang terbit dari rahim kasihnya. Pada sebutir nasi yang terhidang, tersirat riwayat juang yang tak berkesudahan.
Bukan pengais rezeki semata, melainkan penjaga marwah isi rumahnya. Diketahuinya rezeki itu bukan sekadar uang yang dibawa pulang, tetapi barakah yang tumbuh dari kejujuran dan kerja keras.
- Sebagai Ustadz (Guru) – Sang Pendidik Akal dan Budi
Peranan ayah selaku Ustadz tiadalah sekadar mengajarkan huruf dan angka, melainkan menanam hikmah di sebalik tiap peristiwa. Tiadalah ia hanya berkata “ini benar” dan “itu salah”, tetapi menyingkap pemahaman mengapa keduanya berbeda.
Ia tahu bahwa ilmu tanpa adab adalah bara tanpa cahaya—membakar, namun tak menyuluh jalan.
- Sebagai Qa’id (Pemimpin) – Sang Pengarah Jalan dan Penentu Arah
Ayah adalah Qa’id, kompas budi dan pedoman akhlak yang menuntun keluarganya di tengah badai zaman. Tiadalah ia raja yang memerintah dengan murka, melainkan nakhoda yang memimpin dengan teladan. Dalam tegasnya terpendam kasih, dalam tiap keputusannya bersemayam doa yang tak bersuara.
- Sebagai Syaikh (Guru Spiritual) – Sang Penunjuk Jalan Menuju Tuhan
Sebagai Syaikh, ayah bukan hanya menuntun anak memahami dunia, tetapi memperkenalkan Rabb yang mentadbir semesta. Ia membimbing bukan dengan titah, tetapi dengan keteladanan: dalam sujudnya, dalam sabarnya, dalam doanya yang lirih.
- Sebagai Shadiq (Kawan) – Sahabat dalam Perjalanan Hidup
Pada akhirnya, ayah juga adalah Shadiq — sahabat sejati dalam perjalanan panjang anak-anaknya menuju kedewasaan. Ia mendengar sebelum menasihati, memahami sebelum menilai. Dalam diamnya tersimpan doa, dalam langkahnya tertanam arah.
⸻
Cahaya yang Tak Pernah Padam
Ayah adalah bayangan cahaya di ujung senja — tak selalu tampak di depan mata, namun sinarnya menuntun langkah dari belakang.
Dan di sanalah letak kekekalan seorang ayah: bukan pada harta yang fana, bukan pula pada nama yang terhapus waktu, melainkan pada jejak nilai yang ia tanamkan — kerja keras, kasih, ilmu, kepemimpinan, iman, dan persahabatan.
Semua itu menjadi warisan yang tak tertulis, namun abadi bersemayam di dalam sanubari.
Selamat Hari Ayah!
























