acehvoice.net — Di pesisir Pantai Ulee Lheue, deretan pohon bakau berdiri tegak menghadapi hempasan ombak. Akar-akar kokohnya mencengkeram tanah, menjadi benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi. Di antara hijaunya daun dan semilir angin laut, tersimpan kisah tentang kepedulian dan keteguhan hati seorang perempuan lanjut usia bernama Mak Minah.
Setiap pagi, sebelum matahari meninggi, Mak Minah berjalan perlahan menuju tepian pantai. Ia membawa seember kecil air tawar dan segenggam biji-bijian. Air itu disiramkannya ke sekitar akar bakau muda, sementara biji-bijian ditebarkan untuk burung-burung yang kerap bertengger di dahan. Rutinitas tersebut telah ia lakukan bertahun-tahun tanpa pernah merasa lelah.
Bagi Mak Minah, pohon-pohon bakau bukan sekadar tanaman liar. Ia mengenal masing-masing batang dan tunas yang tumbuh di sana. Baginya, bakau adalah penjaga pantai yang setia. Tanpa suara dan tanpa keluhan, mereka melindungi daratan dari pengikisan ombak serta menjaga kesuburan tanah pesisir. Ia kerap menjelaskan kepada warga sekitar bahwa akar bakau yang menjulang dan saling bertaut menjadi rumah bagi berbagai makhluk kecil—dari kepiting, ikan-ikan muda, hingga organisme laut lainnya.
Suatu hari, ketenangan pagi itu terusik ketika sekelompok pemuda datang membawa parang. Mereka berniat membersihkan area pantai dan mengira tunas-tunas bakau muda hanyalah semak belukar tak berguna. Melihat hal tersebut, Mak Minah segera menghampiri mereka. Dengan suara tenang namun tegas, ia menjelaskan bahwa tunas yang hendak ditebang itu adalah generasi baru penjaga pantai.
Ia bercerita tentang pentingnya hutan mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Tanpa bakau, abrasi akan semakin parah dan habitat hewan-hewan kecil akan hilang. Penjelasan Mak Minah membuka pemahaman para pemuda. Mereka mulai menyadari bahwa tindakan mereka bisa membawa dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Alih-alih melanjutkan niat menebang, para pemuda itu justru memilih membantu. Mereka menancapkan papan peringatan agar pengunjung tidak merusak tanaman bakau. Mereka juga membersihkan sampah di sekitar pantai dan ikut menyiram tunas-tunas muda. Sejak saat itu, Mak Minah tidak lagi sendirian dalam menjaga pesisir.
Perubahan sikap para pemuda menjadi titik awal gerakan kecil pelestarian lingkungan di kawasan tersebut. Semangat gotong royong tumbuh, dan semakin banyak warga yang tergerak untuk ikut merawat bakau. Anak-anak muda belajar langsung dari Mak Minah tentang cara menanam dan merawat mangrove, serta memahami perannya dalam menjaga masa depan pesisir.
Kini, bunga-bunga bakau di Pantai Ulee Lheue tetap tumbuh subur. Ombak masih datang silih berganti, tetapi akar-akar kuat itu terus menjadi pelindung daratan. Kisah Mak Minah menjadi pengingat bahwa kepedulian satu orang dapat menumbuhkan kesadaran banyak orang.
Cerita ini bukan hanya tentang pohon bakau, melainkan tentang keteguhan hati dan warisan nilai menjaga alam. Bunga bakau mungkin tampak sederhana, namun maknanya dalam bagi kehidupan pesisir. Selama masih ada yang peduli, bunga bakau itu akan tetap berdiri—tak pernah layu oleh waktu.
























