Oleh: Muhammad Zikri
(Alumni FAH UIN Ar-Raniry & Kader Pelajar Islam Indonesia)
“Setiap jiwa pasti merasakan kematian…” (QS. Ali Imran: 185)
Ayat itu kembali terasa di dada ketika kabar wafatnya Alm. Kanda Syukrinur sampai kepada kita. Ada manusia yang hadir di dunia dengan tenang dan pergi pun meninggalkan keheningan yang menggetarkan. Bukan karena jabatan, bukan karena pangkat—melainkan karena jejak kebaikan yang ditinggalkannya. Dan bagi banyak dari kami, Kanda Syukrinur adalah salah satu dari sedikit orang yang kehidupannya menjadi cermin tanpa perlu lampu sorot.
Sebagai akademisi, Drs. Syukrinur, M.LIS. tidak pernah memperlakukan ilmu sebagai menara yang menjauhkan dirinya dari masyarakat. Ia mengajar dengan hati yang rendah, membimbing dengan kesabaran yang tidak dibuat-buat, dan menyelesaikan setiap persoalan dengan kecerdasan emosional yang sulit ditemukan pada banyak orang berpendidikan tinggi hari ini. Tidak ada kesan mempersulit. Tidak ada sikap meninggi. Yang ada hanya ketulusan seorang guru yang ingin muridnya tumbuh.
Namun ketokohan beliau tidak lahir dari ruang kuliah semata. Ia ditempa dalam Pelajar Islam Indonesia (PII)—di masa ketika organisasi itu bergerak dalam tekanan rezim Orde Baru. Dalam ruang-ruang gelap perjuangan itulah beliau belajar arti keberanian, konsistensi nilai, disiplin, dan keteguhan moral. Keteladanan itu kemudian menjelma menjadi sikap kepemimpinan yang tenang, tak pernah kasar, dan tidak pernah membalas meski disalahpahami atau diremehkan. Sikap seperti inilah yang justru membuatnya tampak “lebih besar” dari mereka yang tidak mampu menilai dengan hati.
Saya tidak mengaku orang terdekat beliau. Tidak. Tapi satu dekade mengenal sosoknya cukup untuk memahami betapa halusnya akhlak beliau. Ada satu pertanyaan yang hampir selalu beliau tanyakan setiap bertemu:
“Sudah sampai mana tesis magisternya, dinda?”
Pertanyaan sederhana, diucapkan dengan senyum ringan, tapi menyimpan kasih sayang yang tidak terlihat. Pertanyaan itu seperti pengingat halus: bahwa menuntut ilmu adalah amanah yang tidak boleh kita abaikan.
Kadang, dalam keakraban itu, saya membalas candanya dengan bahasa Aceh yang ringan:
“Na neuwo-neuwo lom u Lhong kanda lawet nyo?”
(Hendak pulang lagi ke Lhong, kanda?)
Namun sering kali, saat sampai di rumah, saya merasa ucapan itu terlalu santai bagi sosok sebijak beliau. Bukan karena beliau tersinggung—beliau tidak pernah menampakkannya—tetapi karena saya sadar, betapa tingginya akhlak yang seharusnya saya jaga di hadapan seorang guru yang begitu lembut sikapnya.
Nasihat beliau pun tak pernah pudar dari ingatan. Sebagai kader PII, saya masih ingat ungkapan yang sering ia ulang:
“Kader PII tidak boleh bertentangan dengan Catur PII. Ingat, PII itu penyukses studi.”
Kadang ia menyisipkan humor yang justru paling menohok:
“Jangan sampai organisasi bikin kamu lupa jadwal bimbingan skripsi.”
Kalimat-kalimat ringan itu—diucapkan tanpa marah, tanpa memaksa—menjadi pengingat hidup yang terus mengikuti saya sampai hari ini.
Kini, setelah beliau tiada, yang tertinggal bukan sekadar memori tentang seorang dosen atau organisatoris. Yang tertinggal adalah keteladanan: bahwa menjadi tokoh tidak perlu panggung, menjadi intelektual tidak harus angkuh, dan menjadi pejuang tidak selalu berarti berteriak lantang. Kadang, keteguhan hati yang paling kuat justru tampak dalam kesederhanaan.
Semoga Allah SWT merahmati beliau, melapangkan kuburnya, dan menjadikan setiap kebaikan yang pernah ia tanam sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir zaman.
Amin.


























