Acehvoice.net, Banda Aceh – Pada Minggu, 2 Maret 2025, Angga Yudha, seorang Forecaster dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menjelaskan fenomena yang sering terjadi saat kulit terasa perih akibat terkena paparan matahari. Menurut Yudha, perasaan panas pada kulit bukanlah disebabkan oleh panas matahari itu sendiri, melainkan oleh kekurangan cairan atau air di dalam tubuh kita.
“Untuk Aceh Barat sendiri masih normal panas matahari untuk suhu tubuh kita, namun, kenapa begitu terasa panas, hal itu di karenakan kurangnya ruang air yang ada diudara, jadi saat kulit kita bernafas seharusnya bebas melalui pori-pori, tapi karena uap air tinggi, tubuh kita butuh energi lebih banyak tuk mengeluarkan keringat,”jelas Angga Yudha.
Panas Matahari dan Kekurangan Cairan
Yudha mengungkapkan bahwa suhu matahari di Aceh Barat pada umumnya masih dalam batas normal yang aman untuk tubuh manusia. Namun, mengapa kita merasa lebih panas saat terpapar sinar matahari? Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar uap air di udara. Uap air yang tinggi menghambat proses respirasi tubuh, sehingga pori-pori kulit kesulitan untuk bernapas dan melepaskan keringat secara optimal. Akibatnya, tubuh membutuhkan lebih banyak energi untuk mengeluarkan keringat, yang menyebabkan perasaan panas yang lebih intens.
Lebih lanjut, Yudha menjelaskan bahwa kondisi ini juga dapat memicu rasa perih di kulit, terutama jika ada luka kecil atau iritasi pada jaringan kulit yang semakin terasa saat keringat keluar dengan jumlah lebih banyak.
Peringatan Cuaca Terik dan Pengaruhnya pada Aktivitas Luar Ruangan
Selain itu, BMKG juga memberikan peringatan terkait kondisi cuaca di Aceh Barat dalam beberapa hari ke depan. Penyinaran matahari yang cukup intens antara pagi hingga siang hari berpotensi menyebabkan penguapan yang tinggi. Hal ini berisiko meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan pada sore atau malam hari.
Menghadapi kondisi cuaca panas dan terik ini, Angga Yudha mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama jika tidak terlalu mendesak. Hal ini penting agar puasa dan kesehatan tetap terjaga, mengingat suhu matahari yang terik dapat memengaruhi kenyamanan tubuh, terutama pada siang hari.
“Harapan buat masyarakat kiranya kurangi aktifitas di outdoor yg dapat mengganggu ibadah puasa kita kecuali memang dibutuhkan mengingat pagi hingga siang hari matahari terasa lumayan terik,”tutup Angga.
Dengan memahami penyebab kulit terasa perih akibat sinar matahari dan kondisi cuaca yang sedang berlangsung, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dalam beraktivitas di luar ruangan. Menjaga tubuh tetap terhidrasi dan menghindari paparan langsung sinar matahari dapat membantu mengurangi dampak negatif dari cuaca panas ini.


























