• Latest
  • Trending
  • All

“Labbaik” yang Mengguncang Kesombongan : Haji, Panggilan Langit, dan Tamparan bagi Manusia yang Terlalu Membesarkan Dunia

5 Mei 2026

“SEKALI LAYAR TERKEMBANG” : Ketika Ruh Perjuangan PII Terancam Tenggelam di Tengah Krisis Idealisme Generasi

5 Mei 2026

Adakan FGD, Pemerintah Aceh Diskusi Terbuka Dengan OKP dan Ormawa Terkait JKA

4 Mei 2026

Dari Banjir ke Lapangan Terpencil, KPA Ungkap Fakta Kerja Nyata Al-Farlaky di Tengah Serangan Isu

30 April 2026

Jubir KPA Pusat Murka: Serangan ke Al-Farlaky Bukan Kritik, Tapi Upaya Hancurkan Kehormatan

30 April 2026

Peusijuek Jamaah Haji 2026, Bupati Al-Farlaky Titip Doa untuk Kemajuan Aceh Timur

28 April 2026

Pemkab Aceh Timur Ajak Warga Solid Dukung Program, Tegaskan Komitmen Pemulihan Pascabencana

27 April 2026

Kekhususan yang Dikhianati : Krisis Epistemik dan Moral Kepemimpinan Aceh

26 April 2026

Di Tengah Pemulihan Banjir, Isu Liar Serang Bupati Al-Farlaky, Pemuda Aceh Minta Publik Waspada

25 April 2026

Gerak Cepat, Bupati Al-Farlaky Salurkan Bantuan Darurat untuk Korban Kebakaran di Julok

24 April 2026

Walimatus Safar : Antara Spirit Ibadah dan Panggung Sosial

23 April 2026
Pimpin Upacara TMMD, Bupati Al-Farlaky Tekankan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat

Pimpin Upacara TMMD, Bupati Al-Farlaky Tekankan Sinergi dan Pemberdayaan Masyarakat

22 April 2026

TMMD Jadi Momentum Perkuat Ekonomi Desa, Bupati Tekankan Sinergi Lintas Sektor

22 April 2026
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
Selasa, Mei 5, 2026
  • Login
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN
No Result
View All Result
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
No Result
View All Result
Home Opini

“Labbaik” yang Mengguncang Kesombongan : Haji, Panggilan Langit, dan Tamparan bagi Manusia yang Terlalu Membesarkan Dunia

Fazil by Fazil
5 Mei 2026
in Opini
0
491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Oleh :Teuku Muhammad Jamil Ilmuwan Sosial dan Akademisi Universitas Syiah Kuala, Aceh

ADVERTISEMENT

acehvoice.net — Banda Aceh — Tanggal 5 Mei 2026, Kloter pertama Jamaah Haji asal Aceh akan berangkat menuju Tanah Suci. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, jabatan, kemewahan, dan seluruh kenyamanan dunia demi memenuhi satu panggilan agung yang tidak semua manusia mendapat kehormatan untuk mendengarnya: panggilan Allah menuju Baitullah.

BacaJuga

Walimatus Safar : Antara Spirit Ibadah dan Panggung Sosial

Ketika Tanah Menangis dan Langit Tak Lagi Menahan: Seruan dari Sumatera untuk Keadilan Alam dan Kemanusiaan

Globalisasi Pendidikan di Banda Aceh Menjadi Peluang atau Tantangan di Era Terbuka

Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik…

ADVERTISEMENT

Talbiyah itu bukan sekadar bacaan ritual. Ia adalah seruan langit yang menghancurkan kesombongan manusia. Kalimat itu sesungguhnya sedang mengajarkan bahwa sehebat apa pun seseorang di dunia, pada akhirnya ia hanyalah hamba kecil yang akan kembali menghadap Tuhan tanpa membawa jabatan, gelar, kekuasaan, atau pujian manusia.

Ironisnya, di zaman modern ini manusia justru semakin mabuk oleh dunia. Banyak orang merasa dirinya besar karena uangnya, jabatannya, pengikutnya, rumah mewahnya, atau gelar akademiknya. Mereka berjalan di bumi dengan dada yang penuh kesombongan, seolah hidup tidak akan pernah berakhir dan kematian hanya milik orang lain. Padahal di hadapan Ka’bah, semua kesombongan itu runtuh.

Di sana, pejabat dan rakyat biasa berdiri dalam pakaian yang sama. Orang kaya dan orang miskin thawaf di putaran yang sama. Profesor, pengusaha, petani, nelayan, dan buruh sama-sama menangis di hadapan Allah. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada protokoler dunia. Tidak ada manusia yang lebih tinggi selain karena ketakwaannya.

ADVERTISEMENT

Haji sesungguhnya adalah pelajaran paling keras bagi manusia yang sombong.

Sebab ihram adalah simbol kematian. Kain putih itu seperti kafan yang mengingatkan bahwa suatu hari nanti manusia akan dipanggil pulang tanpa membawa apa-apa selain amalnya. Anehnya, banyak manusia sibuk mempercantik dunia, tetapi lupa memperbaiki jiwanya. Sibuk membangun citra, tetapi lalai membangun akhlak. Sibuk mencari pengakuan manusia, tetapi miskin keikhlasan di hadapan Tuhan.

Di Aceh, keberangkatan haji selalu diselimuti suasana haru dan sakral. Kenduri digelar. Peusijuek dilakukan. Tangisan keluarga pecah di pelataran rumah dan bandara. Semua itu bukan sekadar adat, melainkan bahasa spiritual masyarakat Aceh tentang penghormatan terhadap perjalanan suci seorang hamba menuju Tuhan.

Tradisi peusijuek mengandung pesan filosofis yang dalam: bahwa hidup harus dijalani dengan hati yang sejuk, bersih, dan rendah hati. Sebab manusia yang keras oleh kesombongan sesungguhnya sedang menjauh dari cahaya Tuhan.

Namun di tengah suasana religius itu, ada satu pertanyaan besar yang seharusnya menghantam kesadaran kita bersama: mengapa begitu banyak orang rajin beribadah, tetapi masih gemar merendahkan manusia lain?

Mengapa ada yang berkali-kali pergi haji, tetapi lisannya tetap melukai? Mengapa ada yang menangis di depan Ka’bah, tetapi masih tega berlaku zalim setelah pulang ke tanah air? Mengapa simbol agama semakin ramai dipamerkan, tetapi kejujuran justru semakin langka?

Inilah tragedi spiritual manusia modern : agama sering berhenti di pakaian, tetapi gagal masuk ke hati.

Padahal haji bukan wisata religi. Haji adalah proses penghancuran ego. Orang yang benar-benar memahami makna haji akan pulang dengan jiwa yang lebih lembut, bukan lebih angkuh. Lebih sederhana, bukan lebih suka dipuji. Lebih peduli kepada sesama, bukan semakin merasa paling suci.

Karena itu, predikat Haji Mabrur bukanlah gelar sosial untuk dibanggakan di depan manusia. Ia adalah ukuran moral di hadapan Allah. Haji mabrur tercermin dari perubahan akhlak, bukan dari banyaknya foto di Tanah Suci atau cerita tentang hotel dan fasilitas mewah selama ibadah.

Hari ini kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu mudah silau pada simbol. Manusia dihormati karena kekayaan, bukan karena kejujuran. Dipuja karena jabatan, bukan karena integritas. Bahkan ada yang merasa dirinya mulia hanya karena gelar dan status sosialnya. Padahal tanah kuburan tidak pernah bertanya siapa yang paling kaya.

Kematian tidak pernah peduli siapa yang paling terkenal. Dan Allah tidak menilai manusia dari tepuk tangan dunia, melainkan dari kebersihan hati dan amalnya.

Karena itu, keberangkatan jamaah haji Aceh tahun 2026 seharusnya bukan hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum perenungan sosial bagi kita semua. Bahwa hidup ini sangat singkat. Bahwa dunia hanya persinggahan sementara. Dan bahwa kesombongan hanyalah penyakit jiwa yang sering membuat manusia lupa diri sebelum akhirnya dipaksa tunduk oleh kematian.

Akhirnya, kepada seluruh jamaah calon haji Aceh, kami titip doa dan harapan. Semoga Allah menjaga setiap langkah menuju Tanah Haram. Semoga ibadah hajinya dimudahkan, disehatkan, dan diterima sebagai amal yang mabrur dan mabrurah.

Dan lebih dari itu, semoga sepulang dari Baitullah, para jamaah membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada oleh-oleh dunia: hati yang lebih rendah hati, jiwa yang lebih bersih, dan kesadaran bahwa setinggi apa pun manusia di bumi, pada akhirnya ia tetap hanyalah seorang hamba di hadapan Allah.

Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik…

Tags: HajiIbadahOpiniPanggilan Langit
SendShare196Tweet123Share
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Walimatus Safar : Antara Spirit Ibadah dan Panggung Sosial

by Fazil
23 April 2026
0
1.4k

Oleh :Teuku Muhammad Jamil, Dr, Drs, M.Si, Ph.D Pengamat Sosial...

Ketika Tanah Menangis dan Langit Tak Lagi Menahan: Seruan dari Sumatera untuk Keadilan Alam dan Kemanusiaan

by Fazil
29 November 2025
0
1.5k

Ditulis/disusun oleh: Muhammad Ramadhanur Halim, S,H.I., Di tengah malam yang...

Globalisasi Pendidikan di Banda Aceh Menjadi Peluang atau Tantangan di Era Terbuka

Globalisasi Pendidikan di Banda Aceh Menjadi Peluang atau Tantangan di Era Terbuka

by Fazil
19 November 2025
0
1.4k

Globalisasi Pendidikan di Banda Aceh Menjadi Peluang atau Tantangan di...

Kualitas, Bukan Pencitraan: Bupati Aceh Timur dan Kerja Nyata yang Terukur

by acehvoice.net
12 November 2025
0
1.4k

Menyebut sidak sebagai pencitraan tanpa memahami konteks ini adalah bentuk...

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kapan PPPK 2024 dibuka? Berikut Penjelasan Menpan-RB

Operator Layanan Operasional PPPK: Peran, Tanggung Jawab, dan Keterampilan yang Dibutuhkan

4 September 2024
Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

28 Agustus 2024
Vidu AI Studio: Solusi Cerdas untuk Pembuatan dan Pengeditan Video

Vidu Studio: Tutorial Menggunakan Langkah demi Langkah

26 Agustus 2024
PPPK Bisa Ikut Seleksi CASN Agustus 2024

Jadwal Lengkap Seleksi CPNS 2024 Diumumkan

1

Final, DPP PA Tetapkan Al-Farlaky Calon Bupati Aceh Timur

1
Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

1

“Labbaik” yang Mengguncang Kesombongan : Haji, Panggilan Langit, dan Tamparan bagi Manusia yang Terlalu Membesarkan Dunia

5 Mei 2026

“SEKALI LAYAR TERKEMBANG” : Ketika Ruh Perjuangan PII Terancam Tenggelam di Tengah Krisis Idealisme Generasi

5 Mei 2026

Adakan FGD, Pemerintah Aceh Diskusi Terbuka Dengan OKP dan Ormawa Terkait JKA

4 Mei 2026
ADVERTISEMENT
acevoice.net

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Menu Navigasi

  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In