Acehvoice.net – China mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mencabut semua kebijakan tarif tambahan yang diterapkan pada produk-produk asal China. Permintaan ini muncul setelah AS menaikkan tarif atas barang-barang China, termasuk kendaraan listrik, baterai lithium-ion, sel surya, dan mineral kritis.
Kementerian Perdagangan China menilai bahwa kenaikan tarif AS tersebut mengabaikan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan merupakan bentuk proteksionisme perdagangan yang merugikan stabilitas rantai pasokan global. China menegaskan bahwa pasar domestiknya bukanlah ancaman bagi AS, melainkan peluang bagi pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, pada tahun 2024, China telah mencabut pengenaan tarif terhadap 65 item produk AS, termasuk kayu, buku, alat penyaring, komponen mesin, mesin, dan peralatan medis. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk meredakan ketegangan perdagangan antara kedua negara.
Selain itu, pada Desember 2024, China memperpanjang pengecualian tarif untuk impor beberapa produk AS hingga 28 Februari 2025. Barang-barang yang terdaftar, seperti bijih logam tanah jarang, desinfektan medis, dan baterai nikel-kadmium, tetap dibebaskan dari tarif tambahan yang dikenakan sebagai tindakan balasan terhadap kebijakan AS.
Namun, pada Maret 2025, AS kembali menerapkan tarif tambahan untuk barang-barang China, termasuk produk pertanian seperti jagung dan kedelai, dengan bea baru masing-masing sebesar 15 persen dan 10 persen. Sebagai respons, China mengumumkan akan mengenakan tarif tambahan hingga 15 persen pada beberapa barang AS mulai 10 Maret 2025 dan membatasi ekspor ke 15 perusahaan AS.
Menanggapi kebijakan terbaru AS, China mendesak AS untuk segera menghapus tarif tambahan dan sanksi yang dianggap keliru. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang atau tarif, serta proteksionisme tidak menawarkan solusi.
Komunitas industri dan perdagangan China juga mendesak AS untuk berhenti menaikkan tarif dan kembali ke meja perundingan. Mereka menyoroti bahwa tindakan AS dapat merusak stabilitas rantai pasokan global dan menghambat pemulihan ekonomi dunia.
Dengan latar belakang tersebut, China menekankan pentingnya penyelesaian sengketa perdagangan melalui dialog dan negosiasi yang setara, saling menghormati, dan saling menguntungkan. Kedua negara diharapkan dapat menemukan solusi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak dan menjaga stabilitas ekonomi global.

























