BIREUEN – Warga Gampong Kutablang, Kabupaten Bireuen, hingga kini masih bergantung pada perahu darurat untuk menyeberangi sungai setelah jembatan utama putus akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Kondisi ini memaksa masyarakat tetap beraktivitas dengan risiko keselamatan yang tinggi.
Salah satu warga setempat, Muhammad Rizal, mengoperasikan dua unit perahu khusus untuk menyeberangkan sepeda motor sejak hari kedua pascabencana. Dalam sehari, ia melayani sekitar 80 hingga 100 penumpang, tergantung pada kondisi arus sungai.
“Kalau arus deras, satu kali jalan hanya bisa membawa tiga motor. Kalau air tenang, bisa sampai tujuh motor,” ujar Akbar.
Proses penyeberangan tidak dilakukan sembarangan. Puluhan relawan dilibatkan untuk memastikan keamanan. Di masing-masing sisi sungai, sedikitnya 15 orang berjaga untuk membantu menaikkan dan menurunkan sepeda motor dari perahu.
Akbar menegaskan, tarif Rp70.000 per sepeda motor bukan ditetapkan tanpa alasan. Menurutnya, biaya tersebut sebanding dengan risiko, tenaga, dan keselamatan penumpang.
“Kalau ada yang mengeluh soal tarif, harus dipahami risiko dan tenaga relawan yang kami keluarkan demi keselamatan,” katanya.
Selain biaya relawan, operasional perahu juga dibebani kenaikan harga bahan bakar. Solar yang sebelumnya seharga Rp350.000 per jeriken, kini melonjak menjadi Rp525.000. Belum termasuk biaya pembuatan akses jalan darurat dan pengadaan perahu.
Meski mahal dan penuh risiko, layanan penyeberangan darurat ini menjadi satu-satunya penopang mobilitas warga hingga jembatan alternatif dibangun.
“Kalau air surut, layanan dibuka setiap hari. Saat pasang, kapasitas dikurangi. Keselamatan tetap yang utama,” tegas Akbar.
Bagi sebagian warga, pengalaman menyeberang dengan perahu ini menjadi hal yang menegangkan. Rini, mahasiswa UIN Ar Raniry asal Aceh Besar, mengaku cemas saat harus menyeberangi sungai untuk mengantarkan bantuan untuk korban terdampak banjir.
“Jujur takut karena baru pertama kali naik perahu. Apalagi sempat dengar kabar ada yang hanyut. Tapi karena disediakan jaket pelampung, rasanya sedikit lebih aman,” ujarnya.























