Acehvoice.net – Dalam kehidupan sebuah bangsa, pendidikan adalah fondasi yang paling penting. Di Indonesia, sekolah dan madrasah menjadi tempat utama untuk menanamkan nilai, ilmu, dan karakter kepada generasi muda. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul persoalan yang semakin nyata, metode pendidikan yang diterapkan di banyak sekolah saat ini tampak lebih fokus pada pengajaran daripada pada pendidikan itu sendiri.
Hal ini terlihat dari rutinitas belajar yang padat, tugas yang menumpuk, dan tekanan untuk mendapat nilai tinggi. Para siswa diajarkan banyak mata pelajaran, namun sering kali mereka tidak benar-benar memahami maknanya. Bahkan, sebagian guru lebih menekankan kecepatan dalam menyelesaikan materi daripada memastikan bahwa setiap murid memahami apa yang diajarkan. Akibatnya, Pendidikan di Sekolah dan Madrasah berubah menjadi ajang perlombaan angka, bukan proses membentuk pribadi seorang pelajar. Hal ini menyebabkan banyak siswa yang cerdas di atas kertas, tapi kurang tangguh secara mental dan sosial.
Salah satu penyebab utamanya adalah metode pendidikan yang bersifat satu arah, Guru menjadi pusat segalanya, sementara siswa hanya menjadi pendengar. Jarang sekali proses belajar diwarnai oleh dialog, tanya jawab yang mendalam, atau diskusi terbuka. Padahal, belajar sejatinya adalah proses dua arah, yang membutuhkan ruang untuk berpikir, mengungkapkan pendapat, dan tempat untuk mengoreksi apabila ada kesalahan dalam berpendapat.
Masalah lain adalah kurangnya pendekatan yang menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Saat dunia sudah serba digital, metode belajar di banyak sekolah masih terpaku pada cara lama, yaitu mencatat, menghafal, lalu diuji. Siswa tidak dibiasakan untuk berpikir kritis, bekerja sama, atau menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Hal ini membuat ilmu yang didapat terasa kering dan tidak membekas bagi para pelajar saat ini.
Guru sebenarnya punya peran sangat besar untuk mengubah hal ini, Namun, sistem pendidikan yang terlalu kaku dan penuh tekanan membuat para guru kesulitan untuk berinovasi. Kurikulum yang berubah-ubah, tuntutan administratif, serta penilaian yang terfokus pada angka, membuat mereka lebih sibuk dengan teknis mengajar daripada membimbing secara menyeluruh.
Maka, pendidikan kita butuh perubahan cara pandang, sekolah dan madrasah bukan hanya tempat mengajar, tapi tempat mendidik manusia seutuhnya. Metode yang dipakai seharusnya memberi ruang pada siswa untuk bertumbuh, bukan hanya dari sisi akademik, tapi juga dari cara berpikir, bersikap, dan menghadapi kehidupan.
Kesimpulannya, Pendidikan di Indonesia baik di sekolah maupun madrasah masih terlalu terikat pada metode lama yang menekankan hafalan dan angka. Sudah saatnya terjadi perubahan, bukan dengan membongkar semuanya, tapi dengan memperbaiki arah dan pendekatan. Belajar tidak cukup hanya dari buku dan papan tulis, tapi juga dari dialog, praktik, dan pembiasaan nilai. Karena sejatinya, tujuan akhir pendidikan bukan hanya menghasilkan siswa yang pintar, tapi juga manusia yang bijak dan bertanggung jawab.


























