Acehvoice.net, BANDA ACEH – 3 September 2025. Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kota Banda Aceh mengadakan Simposium Pendidikan sebagai respon atas berbagai persoalan pendidikan di Aceh, khususnya di ibu kota provinsi. Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah degradasi karakter generasi muda yang kian tampak melalui perilaku menyimpang di kalangan pelajar.
Dengan mengusung tema “Pendidikan Karakter Sebagai Strategi Reduksi Perilaku Menyimpang pada Remaja”, simposium menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan. Hadir Dr. Silahuddin, M.Ag. (Ketua Prodi S3 PAI UIN Ar-Raniry), Mohd Rendi Febriansyah (Ketua PII Aceh), Jhon Abdi, S.Pd., M.Pd. (Plt Kacabdin Banda Aceh–Aceh Besar), serta Reza Fahlevi, M.Sos. (Komisioner KPI Aceh).
Acara yang berlangsung di Aula Dinas Sosial Aceh, Lampineung ini diikuti sekitar 150 peserta, terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan tokoh masyarakat. Simposium dibuka resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakrie, yang menyampaikan apresiasi atas inisiatif PII Banda Aceh. Ia menegaskan bahwa Dinas Pendidikan terbuka terhadap gagasan positif demi memperkuat pendidikan di Banda Aceh.
Plt Kacabdin Banda Aceh–Aceh Besar, Jhon Abdi, menegaskan pentingnya implementasi pendidikan karakter di setiap sekolah sebagai upaya mencegah perilaku menyimpang. Menurutnya, nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian adalah fondasi dalam membangun generasi berintegritas.

Sementara itu, Komisioner KPI Aceh, Reza Fahlevi, mengingatkan peserta agar bijak dalam menggunakan gawai dan media sosial. Ia menyoroti bahaya game judi online yang menyasar pelajar, serta menekankan pentingnya berpikir kritis terhadap arus informasi digita.
“Jangan sampai kita terpapar hal-hal yang merusak, seperti game judi online. Itu jauh lebih berbahaya bagi masa depan generasi kita. Bijaklah dalam menggunakan media sosial,” tegas Reza.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi adalah keniscayaan yang tidak mungkin dibendung. Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana masyarakat, khususnya generasi muda, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi tersebut.
“Kita tidak bisa menjauh dari teknologi, tapi kita bisa menyesuaikan diri. Dunia pendidikan sangat penting untuk mendidik anak-anak kita agar lebih kritis ketika mendapatkan informasi apapun. Mereka harus bisa menjadi agen bagi masyarakat dan keluarga,” jelasnya.
Reza juga menekankan bahwa setiap informasi yang diterima perlu dikonfirmasi, dibandingkan, dan dikritisi, baik itu berita, hiburan, maupun konten digital lainnya. Dengan begitu, generasi muda Aceh akan tumbuh sebagai generasi emas yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Ketua PII Aceh, Mohd Rendi Febriansyah, turut menyinggung persoalan serius lain seperti pungutan liar (pungli) di sektor pendidikan. Ia menilai sistem pendidikan saat ini terlalu berorientasi pada pekerjaan dan uang, sehingga mengabaikan filosofi dasar pendidikan yang seharusnya menumbuhkan kebebasan berpikir.
“Sangat banyak permasalahan pendidikan yang dirasakan hari ini. Berbicara pendidikan karakter, maka harus dikaitkan dengan sifat alamiah manusia sejak kecil yaitu keingintahuan. Hal ini merupakan proses filsafat secara alami. Tapi pengajaran tentang filsafat tidak diajarkan, sehingga tidak ada kebebasan dalam berpikir.
Akhirnya terjadilah pendidikan industrialis yang berorientasi pada pekerjaan dan uang. Selain itu banyak permasalahan seperti pungli yang membuktikan bobroknya sistem pendidikan kita sekarang. Dan organisasi pelajar dalam hal ini PII berkomitmen menuntaskan permasalahan permasalahan tersebut,” kata Ketua PII Aceh Rendi.
Melalui Simposium Pendidikan ini, PII Banda Aceh berkomitmen menjadi motor penggerak dalam memperkuat pendidikan karakter di sekolah. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog strategis antara akademisi, pemerintah, organisasi pemuda, dan masyarakat dalam mencari solusi nyata atas tantangan pendidikan di Aceh.


























