acehvoice.net – Banda Aceh – Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menerima penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI sebagai Pemerhati Pendidikan dan Praktik Baik Sastra, Bahasa, dan Budaya Tahun 2026.
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian kegiatan Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Jakarta, yang melibatkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Ekonomi Kreatif.
Anugerah tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi Murthalamuddin dalam mendorong penguatan pendidikan yang berjalan beriringan dengan pengembangan bahasa, sastra, dan kebudayaan.
Murthalamuddin mengatakan penghargaan tersebut bukan semata-mata ditujukan untuk dirinya secara pribadi. Menurutnya, apresiasi itu juga merupakan gambaran dari kerja bersama para guru, kepala sekolah, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, serta seluruh ekosistem pendidikan di Aceh.
“Ini bukan penghargaan personal. Ini apresiasi untuk guru, kepala sekolah, pegiat literasi, sastrawan, budayawan, dan seluruh ekosistem pendidikan Aceh,” kata Murthalamuddin, Senin (10/8/2026) di Jakarta.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak dapat dipisahkan dari bahasa, sastra, dan budaya. Sekolah, menurutnya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang untuk membentuk karakter dan memperkuat identitas peserta didik.
Murthalamuddin menyebut Aceh memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran. Tradisi intelektual Islam, manuskrip, hikayat, bahasa daerah, seni, hingga tradisi tutur dinilai sebagai modal penting dalam membangun pendidikan berbasis literasi.
“Kekayaan itu harus semakin dekat dengan sekolah dan kehidupan anak-anak,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda Aceh perlu memiliki kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan identitas daerah. Karena itu, budaya membaca, menulis, berdiskusi, serta ruang kreativitas dan apresiasi sastra perlu terus diperluas di lingkungan sekolah.
“Anak-anak kita harus adaptif terhadap zaman, tetapi tetap mengenal sejarah, bahasa, sastra, dan budayanya,” kata Murthalamuddin.
Ia juga menilai guru memiliki peran strategis dalam menghadirkan pembelajaran bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan yang lebih kontekstual. Materi pembelajaran tersebut, kata dia, tidak seharusnya hanya berhenti pada hafalan, tetapi perlu dikaitkan dengan kehidupan dan pengalaman peserta didik.
“Guru harus menghadirkan pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan peserta didik,” katanya.
Murthalamuddin berharap penghargaan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat, pegiat literasi, sastrawan, dan pelaku kebudayaan.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pendidikan di Aceh tidak hanya menghasilkan generasi yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan literasi, kreativitas, karakter, serta pemahaman yang kuat terhadap bahasa dan budaya daerah.


























