| Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP USK, Rizanna Rosemary, Ph.D., menyerahkan cenderamata kepada Dekan FISIP UI, Prof. Evi Fitriani, M.A., M.I.A., Ph.D., pada kegiatan benchmarking dan studi banding FISIP USK ke FISIP UI, Depok, 1 September 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penguatan jejaring dan penjajakan kolaborasi akademik, penelitian, penjaminan mutu, serta pengembangan kelembagaan antara kedua fakultas. |
acehvoice.net – Banda Aceh – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP USK) melakukan benchmarking dan studi banding ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Senin, 1 September 2026. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus menjajaki peluang kerja sama dalam pengembangan akademik, penelitian, penjaminan mutu, dan tata kelola kelembagaan.
Delegasi FISIP USK dipimpin Rizanna Rosemary, Ph.D., Wakil Dekan Bidang Akademik, didampingi Alfi Rahman, Ph.D., dosen FISIP USK; Muliawati, M.I.P., TPMA FISIP USK; serta Ibnu Fonna Nurdin, M.Si., Koordinator Program Studi Hubungan Internasional FISIP USK.
Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Nurani FISIP UI tersebut diterima langsung oleh Prof. Evi Fitriani, M.A., M.I.A., Ph.D., Dekan FISIP UI, bersama Dr. Dra. Ni Made Martini Puteri, M.Si., Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Ventura dan Administrasi Umum, serta Endah Triastuti, Ph.D., Kepala Unit Penjaminan Mutu Akademik, Pengendalian dan Audit, Manajemen Risiko dan Etik. Sejumlah kepala departemen dan ketua program studi di lingkungan FISIP UI turut hadir dalam pertemuan tersebut.
Diskusi berfokus pada pengalaman FISIP UI dalam mengembangkan institusi pendidikan tinggi bidang sosial dan humaniora. Kedua fakultas melihat terdapat banyak irisan kepentingan sekaligus kekhasan yang memungkinkan kerja sama dikembangkan secara saling melengkapi.
Dekan FISIP UI, Prof. Evi Fitriani, menyambut baik kunjungan tersebut. Menurutnya, pertukaran pengalaman tidak harus berjalan satu arah karena masing-masing institusi memiliki kekuatan dan konteks yang dapat dipelajari bersama.
“Kami tentu sangat terbuka untuk berbagi pengalaman yang telah dikembangkan di FISIP UI. Tetapi kami juga melihat ada banyak hal menarik dari FISIP USK yang dapat kami pelajari. USK memiliki kekhasan dan konteks yang sangat spesifik, yang penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi kawasan,” ujar Prof. Evi.
Salah satu hal yang secara khusus mendapat perhatian adalah pengembangan mekanisme etik penelitian sosial dan humaniora. Prof. Evi mendorong agar pengalaman FISIP UI dalam bidang tersebut dapat menjadi salah satu pintu masuk kerja sama yang lebih konkret.
“Salah satu yang mungkin dapat kita kembangkan bersama adalah penguatan komite etik untuk penelitian sosial dan humaniora di FISIP USK. Kami dapat berbagi pengalaman mengenai bagaimana mekanisme ini dikembangkan dan dijalankan di FISIP UI,” tambahnya.
FISIP USK Dorong Penguatan Program Studi
Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP USK, Rizanna Rosemary, Ph.D., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya FISIP USK memperkuat kualitas akademik dan kelembagaan. Terlebih, FISIP USK akan memasuki usia 20 tahun pada 2027.
“FISIP USK tahun depan akan berusia 20 tahun. Dalam perjalanan tersebut tentu sudah banyak yang kami capai, tetapi kami menyadari masih banyak hal yang perlu dibenahi dan diperkuat, terutama bagaimana mendorong program-program studi kita untuk mencapai predikat unggul,” kata Rizanna.
Menurutnya, penguatan program studi juga penting untuk mendukung pengembangan FISIP USK pada masa mendatang, termasuk kemungkinan pembukaan program studi baru pada jenjang sarjana maupun magister.
Program Studi Hubungan Internasional menjadi salah satu bidang yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui kolaborasi dengan FISIP UI.
“Kami saat ini sudah memiliki Program Studi Hubungan Internasional. Karena itu, kami ingin belajar dan membangun kerja sama dengan HI UI yang sudah memiliki pengalaman lebih dari empat dekade. Bagi kami, sangat wajar datang ke sini untuk belajar dari pengalaman yang telah dibangun FISIP UI,” jelas Rizanna.
Dari Benchmarking Menuju Kolaborasi
Alfi Rahman, Ph.D., yang turut mendampingi delegasi FISIP USK, menilai kunjungan tersebut perlu diarahkan lebih jauh dari sekadar benchmarking kelembagaan. Menurutnya, terdapat ruang yang cukup luas untuk mengembangkan kegiatan akademik dan penelitian bersama.
“Kita melihat banyak irisan antara FISIP USK dan FISIP UI. Karena itu, benchmarking ini sebaiknya tidak berhenti pada proses belajar mengenai tata kelola institusi, tetapi dapat kita lanjutkan menjadi kolaborasi akademik dan penelitian yang lebih konkret,” kata Alfi.
Menurut Alfi, kekhasan Aceh memberikan ruang yang luas untuk membangun kolaborasi riset sosial-humaniora, termasuk dalam kajian perdamaian dan pascakonflik, kebencanaan, tata kelola, hubungan internasional, komunikasi, serta transformasi sosial.
“Aceh memiliki laboratorium sosial yang sangat kaya, mulai dari pengalaman konflik dan perdamaian, tsunami dan kebencanaan, hingga berbagai dinamika tata kelola dan transformasi masyarakat. Kami melihat konteks ini dapat dipertemukan dengan kepakaran yang berkembang di FISIP UI untuk menghasilkan riset, publikasi, dan kegiatan akademik bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama dapat diarahkan pada kegiatan yang relatif mudah dimulai seperti guest lecture, pertukaran dosen, kolaborasi mahasiswa, joint research dan publikasi, sebelum berkembang menjadi kerja sama kelembagaan yang lebih luas.
Kehadiran Ibnu Fonna Nurdin, M.Si., Koordinator Program Studi Hubungan Internasional FISIP USK, juga membuka pembicaraan lebih spesifik mengenai pengembangan jejaring antara HI USK dan Departemen Hubungan Internasional FISIP UI.
Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kemungkinan tindak lanjut, terutama pengembangan komite etik penelitian sosial-humaniora, penguatan penjaminan mutu, pengembangan Program Studi Hubungan Internasional, serta kolaborasi pendidikan dan penelitian.
Bagi FISIP USK, kunjungan ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk mempelajari praktik baik yang telah dikembangkan FISIP UI, tetapi juga untuk membangun pola kemitraan yang menempatkan kekuatan dan kekhasan kedua institusi sebagai modal kolaborasi.
“Semangatnya adalah saling belajar dan saling mengisi. Kami datang untuk belajar dari pengalaman FISIP UI, tetapi pada saat yang sama kami juga ingin membawa kekuatan dan pengalaman yang dimiliki Aceh dan USK ke dalam kolaborasi yang lebih luas,” tutup Rizanna.


























