acehvoice.net – Aceh Timur – Menyambut peringatan 21 Tahun Damai Aceh, Pemuda asal Aceh Timur, Radja Muhammad Husen, mempersembahkan sebuah karya logo bertajuk “21 Th DAMAI ACEH” sebagai bentuk kecintaan dan kepedulian terhadap keberlangsungan perdamaian Aceh di bumi Serambi Mekah.
Logo yang dirancang untuk memperingati perjalanan 15 Agustus 2005 hingga 15 Agustus 2026 tersebut tidak hanya menjadi penanda 21 tahun perdamaian Aceh, tetapi juga membawa pesan tentang sejarah, perjuangan, harapan serta tanggung jawab bersama dalam menjaga dan merawat perdamaian.
Angka “21” melambangkan 21 tahun perjalanan perdamaian Aceh, terhitung sejak 15 Agustus 2005 hingga 15 Agustus 2026. Angka tersebut menjadi simbol perjalanan panjang Aceh dari masa konflik menuju kehidupan yang lebih damai, aman dan bermartabat.

Burung merpati putih menjadi simbol perdamaian, harapan dan kebebasan. Dalam logo ini, merpati menggambarkan harapan agar perdamaian Aceh terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara ranting yang dibawa merpati melambangkan perdamaian yang harus terus dirawat. Pesannya bukan sekadar bahwa perdamaian telah tercapai, tetapi bahwa perdamaian membutuhkan komitmen, kepedulian dan tanggung jawab bersama.
Adapun warna merah merepresentasikan keberanian, semangat, perjuangan dan pengorbanan. Warna ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju perdamaian Aceh bukanlah proses yang mudah, melainkan lahir dari perjalanan panjang dan penuh tantangan.
Warna putih melambangkan ketulusan, kedamaian, harapan dan lembaran baru bagi Aceh. Penggunaan warna putih pada burung merpati sekaligus menegaskan harapan agar masa depan Aceh terus dibangun dengan semangat perdamaian.
Sedangkan warna hitam menggambarkan keteguhan, kekuatan dan sejarah masa lalu. Warna tersebut menjadi pengingat agar pengalaman pahit masa lalu tidak dilupakan, tetapi dijadikan pelajaran penting dalam menjaga perdamaian.
Tulisan “DAMAI ACEH” menjadi pesan utama bahwa perdamaian bukan sekadar sebuah peristiwa sejarah, tetapi telah menjadi bagian penting dari perjalanan Aceh sekaligus tanggung jawab bersama seluruh masyarakat untuk menjaganya.
Sementara “15 AGUSTUS 2026” menjadi penanda peringatan 21 tahun perdamaian Aceh sekaligus pengingat perjalanan sejarah yang dimulai pada 15 Agustus 2005.
Adapun slogan “Saban Sare Jaga Perdamaian” menjadi ruh dari keseluruhan logo. Kalimat tersebut mengandung pesan bahwa perdamaian harus dijaga setiap hari melalui sikap saling menghormati, persatuan, toleransi dan komitmen bersama untuk tidak mengulangi konflik masa lalu.

Secara keseluruhan, logo 21 Tahun Damai Aceh menggambarkan perjalanan dari perjuangan menuju perdamaian, dari masa lalu menuju masa depan. Angka 21 menjadi penanda perjalanan waktu, merpati menjadi simbol perdamaian dan harapan, sementara warna merah, putih dan hitam merepresentasikan perjuangan, ketulusan, harapan, keteguhan serta sejarah Aceh.
Radja mengatakan, logo tersebut merupakan persembahan dari anak muda Aceh sebagai bentuk kecintaan dan kepedulian sekaligus pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa perdamaian yang telah berlangsung selama 21 tahun, bukan sekadar angka atau seremoni tahunan, melainkan sebuah perjalanan sejarah yang lahir dari perjuangan, pengorbanan dan harapan banyak generasi.
“21 tahun damai Aceh, adalah sejarah yang harus kita hormati dan amanah yang harus kita jaga. Sebagai anak muda Aceh, saya ingin karya sederhana ini menjadi pesan bahwa perdamaian bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus kita isi dengan persatuan, karya dan harapan. Mari kita jaga apa yang telah diwariskan, agar generasi Aceh berikutnya dapat terus hidup dalam suasana damai. Saban sare, jaga perdamaian,” ujar Radja. Minggu, 09 Agustus 2026.
Ia berharap logo tersebut dapat dipertimbangkan oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA) untuk digunakan sebagai logo resmi peringatan 21 Tahun Damai Aceh, apabila dinilai sesuai dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Jika logo ini dinilai layak untuk digunakan oleh BRA sebagai logo resmi 21 Tahun Damai Aceh, saya tentu sangat bersyukur. Yang terpenting bagi saya bukan siapa pembuatnya, tetapi pesan perdamaian yang terkandung di dalamnya dapat menjadi milik seluruh rakyat Aceh,” katanya.
Radja juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi penonton dalam perjalanan perdamaian Aceh, tetapi ikut mengambil peran melalui karya, kreativitas, persatuan, toleransi dan pembangunan.
“Perdamaian adalah warisan yang sangat berharga. Kita tidak cukup hanya mengenangnya setiap tahun, tetapi harus terus merawatnya dalam kehidupan sehari-hari. Tugas generasi hari ini adalah memastikan perdamaian tetap tumbuh dan menjadi fondasi bagi masa depan Aceh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peringatan 21 Tahun Damai Aceh hendaknya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat Aceh.
“Dari sejarah kita belajar, dari perdamaian kita membangun masa depan. Mari kita rawat perdamaian dengan hati, kita jaga dengan persatuan, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya. Karena damai bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk selamanya. Saban sare, jaga perdamaian,” pungkas Radja.(*)


























