Penulis: Azka Dzikri Alfarehzy, Banda Aceh, Siswa SMP 17 Banda Aceh
acehvoice.net — Pada tahun 2024, di sebuah negeri fiksi bernama Konesia, berlangsung pemilihan pemimpin tertinggi yang diibaratkan sebagai pemilihan raja. Seorang pria yang awalnya tidak banyak disebut namanya maju sebagai kandidat. Ia harus menghadapi dua pesaing kuat, yakni Nisa dan Gendar. Persaingan berlangsung ketat dan penuh strategi, mencerminkan dinamika politik yang tidak sederhana.
Singkat cerita, pria tersebut berhasil memenangkan kontestasi. Ia mengungguli kedua lawannya dan resmi menjadi raja baru Konesia. Sementara itu, raja sebelumnya yang bernama Owi menyampaikan pidato perpisahan yang menyentuh hati rakyat. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan akan kembali ke kampung halamannya di Loso dan hidup sebagai rakyat biasa. Ucapan tersebut membuat masyarakat terharu dan mengenang kepemimpinannya dengan berbagai perasaan.
Setelah pelantikan, terungkap bahwa raja baru itu bernama Prawawan. Dalam kampanyenya, ia menjanjikan program makan gratis dan bergizi bagi seluruh pelajar, mulai dari tingkat TK hingga SMA di seluruh Konesia. Janji tersebut disambut antusias oleh masyarakat, terutama para orang tua yang berharap kesejahteraan anak-anak mereka akan meningkat.
Namun, realitas yang terjadi tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan. Program makanan gratis memang berjalan, tetapi di beberapa wilayah kualitasnya dipertanyakan. Ada laporan tentang makanan yang kurang memenuhi standar gizi, bahkan ditemukan makanan yang sudah tidak layak konsumsi. Situasi ini memicu kekecewaan sebagian masyarakat yang sebelumnya menaruh harapan besar pada kebijakan tersebut.
Di sisi lain, Konesia juga menghadapi bencana banjir di beberapa wilayah. Daerah seperti Sumutri Utara, Sumutri Barat, dan sejumlah kawasan di Adjeh dilaporkan terdampak cukup parah. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan harus mengungsi. Dalam cerita ini, kebijakan lingkungan sang raja turut menjadi sorotan.
Prawawan sebelumnya menggagas program reboisasi dengan slogan yang terdengar meyakinkan. Namun, dalam pelaksanaannya, pohon yang ditanam dinilai lebih berorientasi pada keuntungan ekonomi dibanding ketahanan lingkungan. Pohon-pohon tersebut dianggap tidak cukup kuat menopang ekosistem jangka panjang. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi melanda, wilayah-wilayah tertentu menjadi lebih rentan terhadap banjir.
Kritik pun bermunculan. Sebagian rakyat menilai bahwa kebijakan tersebut lebih mengutamakan nilai komersial dibanding keselamatan lingkungan. Dampak yang dirasakan masyarakat tidak hanya berupa kerugian materi, tetapi juga korban jiwa. Banjir yang meluas membuat ribuan keluarga kehilangan rumah dan sumber penghidupan.
Ketegangan meningkat ketika gelombang demonstrasi muncul di berbagai daerah. Rakyat menuntut evaluasi kebijakan serta tanggung jawab atas dampak yang terjadi. Mereka berharap pemimpin baru mampu memperbaiki keadaan dan mendengar aspirasi masyarakat.
Namun dalam alur cerita ini, respons yang muncul justru menambah polemik. Alih-alih membuka ruang dialog yang luas, tindakan tegas diambil terhadap sebagian pengkritik. Beberapa orang yang menyampaikan kritik secara keras dikabarkan ditahan. Situasi ini memperuncing konflik antara pemerintah dan rakyat.
Cerita “Pria Sawit” sejatinya merupakan kisah fiksi yang sarat pesan moral. Ia menggambarkan bagaimana kekuasaan, janji politik, kebijakan lingkungan, dan respons terhadap kritik dapat menentukan arah sebuah negeri. Janji yang terdengar indah di awal dapat berubah menjadi sumber kekecewaan jika tidak dijalankan dengan konsisten dan bertanggung jawab.
Di balik alur dramatisnya, terdapat pelajaran penting tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin bukan hanya dinilai dari kemenangan dalam pemilihan, tetapi dari kesesuaian antara janji dan realisasi. Kebijakan publik harus mempertimbangkan dampak jangka panjang, terutama dalam hal lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, kritik dan aspirasi rakyat seharusnya menjadi bahan evaluasi, bukan ancaman. Dialog terbuka dan transparansi menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik. Tanpa hal tersebut, jarak antara pemimpin dan rakyat akan semakin melebar.
Sebagai karya naratif, “Pria Sawit” mengajak pembaca untuk berpikir kritis tentang arti tanggung jawab, integritas, dan dampak kebijakan terhadap kehidupan banyak orang. Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa setiap keputusan di tingkat atas akan berpengaruh langsung pada masyarakat luas.
Cerita ditutup dengan gelombang kemarahan rakyat yang menjadi simbol akumulasi kekecewaan. Dari sana, pembaca diajak merenungkan pentingnya kepemimpinan yang adil, bijak, dan berpihak pada kepentingan bersama.






















