Acehvoice.net, BANDA ACEH – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa repatriasi benda bersejarah merupakan bagian penting dari pemenuhan hak budaya bangsa. Hal ini disampaikan setelah keberhasilan Indonesia memulangkan Koleksi Dubois dari Belanda pekan lalu, yang menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam memperjuangkan keadilan sejarah sekaligus pemulihan identitas nasional.
“Pemulangan benda bersejarah ke negara asal bukan hanya simbol, tetapi langkah nyata untuk memulihkan martabat bangsa dan menghubungkan kembali identitas dengan generasi penerus,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara di forum budaya dunia UNESCO Mondiacult 2025 di Barcelona, Spanyol. Menurutnya, hak budaya harus dijamin melalui tiga aspek utama: akses yang terbuka, partisipasi publik, dan pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kebudayaan.
Fadli menegaskan, hal itu sejalan dengan amanat Pasal 32 UUD 1945, yang menitikberatkan pada kewajiban negara dalam memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia, serta memberikan kebebasan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan nilai budaya.
Selain repatriasi, ia juga menyoroti kebebasan berekspresi, pelindungan pengetahuan, serta kearifan lokal sebagai bagian dari hak budaya. “Budaya adalah hak hidup semua orang, bukan privilese segelintir kelompok. Setiap komunitas harus bisa mengakses, memperoleh manfaat, sekaligus berpartisipasi dalam pengelolaan kebudayaan,” tegasnya.
Pada aspek ekonomi, Menbud menekankan bahwa budaya merupakan mesin pertumbuhan global. Ia mencatat, sektor industri budaya dan kreatif berkontribusi hingga USD 4,3 triliun atau sekitar 6 persen terhadap ekonomi dunia. Potensi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya memperkuat identitas, tetapi juga membuka lapangan kerja, mendorong inovasi, serta memperluas pemberdayaan sosial.
Fadli menambahkan bahwa Indonesia kini tengah mengembangkan berbagai instrumen pembiayaan kebudayaan. Beberapa di antaranya melalui Dana Abadi Kebudayaan Indonesiana, kolaborasi internasional lewat program produksi bersama, hingga kemitraan antara pemerintah dan swasta (public-private partnership) untuk pembangunan infrastruktur budaya.
Partisipasi Indonesia dalam UNESCO Mondiacult 2025 menjadi langkah penting dalam diplomasi budaya global. Kehadiran ini menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya bagian dari peradaban dunia, tetapi juga siap mengambil peran sebagai pemimpin dalam dialog budaya internasional.
“Indonesia membawa pesan jelas: budaya adalah hak yang dijamin konstitusi sekaligus kekuatan ekonomi global. Kehadiran kita di Barcelona menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa berperadaban besar yang siap memimpin percakapan budaya dunia,” tutup Fadli Zon.























