Penulis: Mulyadi, SHI., M.Sos
(Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu)
Setiap ulang tahun Aceh Timur selalu memberi saya ruang untuk berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan melihat kembali perjalanan sebuah daerah yang tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh sejarah panjang dan manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Sebagai Kepala KUA Indra Makmu Aceh Timur, saya berada di posisi yang membuat saya bisa melihat denyut yang paling jujur dari masyarakat, dari akad yang digelar penuh harap, hingga tangisan yang kadang pecah di ruang mediasi keluarga. Dari sanalah saya memahami bahwa Aceh Timur bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah rumah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan rumah ini memiliki sejarah yang panjang, jauh lebih panjang dari umur kabupatennya sendiri.
Jejak Panjang Peradaban, Perlawanan, dan Kebangkitan
Wilayah yang sekarang kita sebut Aceh Timur ini pernah menjadi salah satu gerbang utama peradaban Islam di Nusantara. Di Peureulak, yang dalam catatan Marco Polo disebut “Ferlec”, Islam telah tumbuh sejak abad ke-9. Di sana pernah berdiri Kesultanan Peureulak, salah satu kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara, tempat para pedagang Arab, Persia, dan India membangun hubungan dagang sekaligus hubungan budaya. Kayu Peureulak menjadi incaran dunia, terutama untuk pembuatan kapal. Di tanah inilah para sultan, para ulama, dan para saudagar menanam pondasi bagi sebuah negeri yang kelak mempengaruhi sejarah Indonesia.
Dua dinasti besar pernah memimpin Peureulak yaitu Dinasti Sayid Maulana Abdul Aziz Syah dan Dinasti Johan Berdaulat. Dari masa itulah lahir nama-nama sultan yang tercatat dalam sejarah Islam kawasan ini, dari Sultan Abdul Aziz Syah yang memulai era Islamisasi, hingga Sultan Malik Abdul Aziz Syah yang putrinya dinikahkan dengan Meurah Silu, lelaki yang kemudian dikenal sebagai Sultan Malikussaleh, pendiri Samudera Pasai.
Sejarah Aceh Timur bukan hanya sejarah kejayaan, tetapi juga sejarah perlawanan. Ketika Belanda mencoba menguasai Aceh, wilayah timur ini menjadi salah satu benteng gerilya. Para uleebalang, para ulama, dan rakyat biasa berdiri dalam barisan perlawanan yang panjang. Tanah ini juga menjadi salah satu lokasi pengeboran minyak tertua di Indonesia. Kekayaan alamnya menarik kekuatan kolonial untuk memanfaatkannya.
Selepas kemerdekaan, Kabupaten Aceh Timur dibentuk melalui UU Darurat No. 7 Tahun 1956. Dahulu, wilayahnya sangat luas, mencakup Aceh Timur, Langsa, hingga Aceh Tamiang. Ibukotanya pun dulu berada di Langsa sebelum akhirnya dipindahkan ke Idi Rayeuk seiring pemekaran daerah.
Aceh Timur juga melewati masa-masa sulit. Konflik bersenjata membuat banyak desa menjadi sepi, pembangunan tertunda, dan rasa cemas merayap di banyak keluarga. Namun setelah MoU Helsinki 2005, daerah ini kembali menemukan jalannya. Jalan lintas diperbaiki, pelabuhan perikanan di Idi bangkit, dan masyarakat kembali menata hidup. Hingga kini, Aceh Timur dikenal sebagai salah satu pusat perikanan terbesar di Aceh.
Sejarah panjang itu membuat Aceh Timur bukan sekadar wilayah. Ia adalah napas. Ia adalah warisan. Ia adalah perjuangan.
**Aceh Timur Hari Ini
Rumah Kita, Tanggung Jawab Kita**
Ketika melihat sejarah itu, saya merasa hari jadi Aceh Timur bukan hanya soal bertambahnya usia, tetapi tentang sejauh mana kita menghargai warisan masa lalu dan menyiapkan masa depan. Masyarakat kita menyimpan kearifan yang dalam, kejujuran yang diwarisi ulama, keberanian yang diwarisi pejuang, dan keteguhan memegang agama yang diwarisi para sultan.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya melihat itu dalam bentuk paling sederhana, pasangan muda yang memulai rumah tangga dengan penuh harapan, anak-anak yang belajar mengaji di meunasah, petani yang tetap turun ke sawah meski cuaca tak menentu, nelayan yang berangkat sebelum fajar sambil menyebut nama Allah. Di titik-titik kecil seperti itulah Aceh Timur sesungguhnya tumbuh.
Tema “Aceh Timur Garang, Kuat Bersama Rakyat, Maju Bersama Syari’at” terasa sangat sesuai dengan jiwa daerah ini. Sejarah mengajarkan kita untuk tidak takut, tetapi juga tidak sombong. Syari’at mengajarkan kita untuk maju, tetapi tetap menjaga akhlak. Dan rakyat mengajarkan kita bahwa pembangunan bukan hanya proyek, tetapi pelayanan.
Harapan Saya untuk Aceh Timur
Saya ingin Aceh Timur tumbuh menjadi daerah di mana setiap keluarga merasa dihormati. Di mana anak-anak tidak hanya cerdas di sekolah, tetapi juga kukuh iman dan akhlaknya. Saya ingin pelayanan publik yang lebih ramah, lebih cepat, dan lebih peka pada kebutuhan masyarakat. Saya ingin melihat petani yang hasil panennya lebih baik, nelayan yang mendapat harga layak, pedagang kecil yang usahanya makin stabil.
Sungguh besar harapan saya agar nilai syari’at tetap hidup dalam keseharian kita, bukan sekadar slogan, tetapi perilaku jujur, adil, menghargai perbedaan, dan menjaga martabat diri serta orang lain.
**Harapan Kepada Bupati Aceh Timur
Iskandar Usman Al Farlaky**
Pada momentum hari jadi yang penuh makna ini, saya ingin menyampaikan harapan yang hangat dan tulus kepada Saudara Kita sekaligus Sahabat, Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky. Beliau memimpin daerah yang tidak hanya luas secara geografis, tetapi luas secara sejarah, luas secara beban moral, luas secara nilai.
Saya berharap beliau terus diberi kekuatan dan kejernihan hati dalam memimpin Aceh Timur. Sejarah panjang daerah ini membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat, tetapi juga sabar, yang tidak hanya tegas, tetapi juga peka. Saya berharap setiap kebijakan yang beliau ambil dapat menyentuh lapisan masyarakat yang paling bawah, para petani yang bangun pagi, para nelayan yang kembali sore, para ibu yang menjaga rumah, para pemuda yang mencari masa depan.
Saya percaya bahwa dengan dukungan masyarakat dan bimbingan nilai-nilai agama, kepemimpinan beliau dapat menjadi jembatan bagi Aceh Timur menuju masa depan yang lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat.
Doa saya semoga Allah memberi beliau kekuatan, kesehatan, keikhlasan, dan kesabaran dalam mengemban amanah. Semoga beliau tetap menjadi pemimpin yang mendengar rakyat, menghargai ulama, dan merangkul semua kalangan. Dan semoga Aceh Timur di bawah kepemimpinannya terus tumbuh sebagai daerah yang ramah, aman, dan diberkahi.
Sejarah Aceh Timur telah mencatat banyak hal, kejayaan, kesedihan, perjuangan, dan kebangkitan. Kini tugas kita adalah memastikan halaman-halaman berikutnya terisi dengan hal-hal yang membangun, menenteramkan, dan memuliakan. Semoga Aceh Timur terus melangkah maju, dengan akar yang kokoh di masa lalu dan cahaya yang kuat menuju masa depan.
Semoga Allah menjaga negeri yang kita cintai ini.
Amin Ya Rabbal Alamin.


























