Acehvoice.net, PIDIE JAYA – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pidie Jaya menggelar lomba video konten literasi bertema “Perkembangan Perpustakaan, Budaya Baca, dan Literasi di Kabupaten Pidie Jaya”. Pendaftaran dibuka sejak 22 Agustus 2025, disusul seleksi tahap pertama pada 26 Agustus, serta pembekalan peserta pada 27–28 Agustus 2025.
Namun, ajang yang diharapkan menjadi ruang ekspresi dan kreativitas para konten kreator ini justru menuai kritik. Sejumlah peserta mengaku kecewa karena proses penilaian dianggap tidak transparan dan tidak sesuai dengan kriteria yang diumumkan sejak awal.
“Tujuan kami ikut bukan hanya hadiah, tapi penghargaan atas karya. Sayangnya, hasil pengumuman tidak disertai penjelasan rinci. Itu membuat kami kecewa,” ujar salah seorang peserta yang tidak mau di sebut namanya, Rabu (6/9).
Peserta lain menilai karya pemenang tidak sejalan dengan pedoman teknis (Juknis) yang telah disosialisasikan. Bahkan, ada dugaan instruksi Perpusnas terkait orisinalitas dan kriteria penilaian tidak diterapkan sepenuhnya. Panitia juga dianggap tidak menjelaskan persentase penilaian sebagaimana dipaparkan dalam bimbingan teknis (bimtek).
Sorotan lain muncul terkait jumlah peserta. Berdasarkan aturan, total peserta seharusnya 50 orang. Namun, akun resmi Dispusip Pidie Jaya hanya menandai sekitar 30 akun. Padahal, salah satu syarat mewajibkan peserta mengunggah video dan menandai akun resmi penyelenggara di Instagram maupun YouTube. Hal ini menimbulkan kesan adanya peserta yang tidak memenuhi syarat, tetapi tetap diloloskan.
Para peserta menilai, transparansi adalah kunci menjaga kepercayaan publik. “Setiap karya dihasilkan dengan usaha dan kreativitas. Tanpa kejelasan, wajar bila peserta menilai penilaian sekadar formalitas,” ungkapnya.
Menanggapi kritik tersebut, panitia pelaksana menjelaskan bahwa mereka hanya bertugas menyelenggarakan kegiatan, sementara hasil penilaian sepenuhnya menjadi kewenangan dewan juri. “Kami hanya menerima hasil dari juri. Namun, masukan dan komentar peserta sudah kami sampaikan, dan juri berinisiatif membuka forum pertemuan dengan peserta pada hari Rabu,” kata panitia saat dihubungi Acehvoice.net.
Panitia juga menegaskan tidak menutup akses transparansi nilai. “Atas permintaan dewan juri, skor tidak dipublikasikan di grup untuk menjaga etika dan menghindari konflik antar peserta. Tapi sejak awal kami sudah menyampaikan, peserta yang ingin mengetahui hasil penilaian bisa datang langsung ke kantor untuk melihat form penilaian dari ketiga juri,” tambahnya.
Kekecewaan ini diharapkan menjadi evaluasi agar lomba literasi ke depan lebih transparan dan akuntabel. Pada akhirnya, esensi literasi bukan hanya tentang siapa yang juara, tetapi bagaimana membangun budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di tengah masyarakat.


























