Oleh: Tamam Husain Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala
acehvoice.net – Banda Aceh – Globalisasi pendidikan di Banda Aceh, dalam konteks era terbuka yang dicirikan oleh perkembangan teknologi dan jaringan global, memberikan kesempatan besar untuk meningkatkan standar pendidikan setempat melalui kemudahan mengakses bahan ajar internasional, seperti kelas daring dari perguruan tinggi dunia dan program tukar siswa yang memperluas pengetahuan budaya serta kemampuan praktis.
Meski demikian, hambatan yang timbul sama pentingnya, meliputi bahaya hilangnya jati diri budaya Aceh karena pengaruh materi luar, perbedaan akses teknologi yang memperdalam kesenjangan antara wilayah urban dan rural, serta ketergantungan pada alat digital asing yang dapat mengurangi otonomi pendidikan.
Untuk memaksimalkan manfaatnya, Banda Aceh harus menyatukan pendidikan global dengan nilai-nilai lokal, misalnya dengan memperbaiki fasilitas digital sekaligus mendorong silabus yang seimbang antara inovasi luar negeri dan warisan budaya, agar globalisasi berfungsi sebagai pendorong kemajuan tanpa merusak identitas regional.
Pasca tsunami 2004 Upaya pemulihan sekolah di Banda Aceh oleh lembaga internasional seperti UNESCO dan World Bank memperkenalkan teknologi pendidikan global, termasuk lab komputer dan platform pembelajaran elektronik. Walaupun ini mempercepat pemulihan pendidikan, contoh di daerah pedesaan seperti Kecamatan Peukan Bada mengungkapkan disparitas, di mana hanya 40% siswa memiliki koneksi internet yang stabil, sehingga program daring sering kali tidak efektif, memperburuk ketidaksetaraan sosial dan mendominasi pendidikan perkotaan. seharusnya Banda Aceh bisa merancang kebijakan yang lebih merata, seperti bantuan biaya internet untuk wilayah terpencil dan penyertaan kurikulum lokal dalam program global, sehingga globalisasi pendidikan memberikan keuntungan jangka panjang untuk seluruh komunitas.


























