Penulis: Balqis Salsabilla, Siswa Negeri 3 Banda Aceh
acehvoice.net — Suatu malam, saya menargetkan satu jam penuh untuk belajar matematika. Buku sudah terbuka, pulpen telah siap, dan sasaran pun jelas: memahami setidaknya dua bab sebagai persiapan ujian. Niatnya sederhana—fokus dan disiplin.
Namun satu notifikasi muncul. Saya berpikir hanya akan melihatnya sebentar. Kenyataannya berbeda. Tanpa terasa, hampir empat puluh menit berlalu. Materi belum bertambah, tetapi layar ponsel sudah berkali-kali berganti.
Keesokan harinya di kelas, ternyata saya tidak sendirian. Beberapa teman mengaku mengalami hal yang sama. Kami paham waktu terbuang. Kami sadar sedang menunda tanggung jawab. Namun pola itu tetap berulang. Inilah paradoks generasi digital: bukan karena tidak tahu, melainkan karena sulit menahan diri.
Sebagai pelajar di Banda Aceh, tuntutan akademik bukan perkara ringan. Persiapan UTBK, tugas praktik, ujian sekolah, hingga persaingan masuk perguruan tinggi negeri membuat suasana kompetisi terasa nyata. Di lingkungan sekolah, nilai kerap menjadi tolok ukur. Siapa yang berada di peringkat atas, siapa yang menjuarai lomba, siapa yang sudah memiliki rencana kuliah yang matang—semuanya menjadi bahan perbandingan. Tekanan itu ada dan nyata. Namun ironisnya, di tengah tekanan tersebut, gangguan justru hadir dalam genggaman sendiri.
Persoalannya bukan pada teknologi. Telepon pintar tidak pernah memaksa kita membuka aplikasi tertentu. Algoritma memang dirancang untuk menarik perhatian, tetapi keputusan tetap berada di tangan pengguna. Ketika waktu belajar tergeser oleh kebiasaan menggulir layar, itu bukan sepenuhnya kesalahan aplikasi. Itu adalah cerminan lemahnya pengelolaan diri.
Ada pula pola yang lebih halus namun berdampak besar: budaya membandingkan diri. Setiap hari kita melihat pencapaian orang lain. Ada yang terlihat produktif, ada yang memamerkan sertifikat, ada yang tampak sudah selangkah lebih maju. Tanpa disadari, muncul perasaan tertinggal. Namun alih-alih bangkit dan bergerak, kita justru semakin lama terpaku pada layar.
Saya menyadari satu hal penting: sering kali kita lebih ingin terlihat sibuk daripada benar-benar bertumbuh. Kita ingin hasil cepat, tetapi enggan melalui proses dengan sabar. Kita mencari pengakuan, bukan peningkatan kualitas diri. Padahal prestasi tidak lahir dari kesan instan, melainkan dari konsistensi yang dijaga setiap hari.
Apakah solusi terbaik adalah menjauh sepenuhnya dari teknologi? Rasanya tidak realistis. Dunia perkuliahan dan dunia kerja tetap menuntut kemampuan digital. Yang dibutuhkan bukan menjauh, melainkan membangun kesadaran dan batas yang tegas. Misalnya dengan menentukan waktu belajar tanpa gawai, menyelesaikan target harian sebelum membuka hiburan, serta mengevaluasi penggunaan waktu setiap malam. Langkah-langkah ini terdengar sederhana, tetapi tantangan sebenarnya terletak pada konsistensi menjalankannya.
Generasi kita sebenarnya memiliki banyak keunggulan. Akses terhadap materi pembelajaran terbuka luas. Informasi dapat ditemukan dalam hitungan detik. Peluang untuk berkembang tersedia lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Yang sering kali kurang bukan fasilitas, melainkan disiplin dan ketegasan dalam menentukan prioritas.
Pada akhirnya, pilihan itu sederhana namun menentukan arah masa depan: terus menggulir layar tanpa tujuan, atau memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk melompat lebih tinggi. Masa depan tidak ditentukan oleh seberapa sering kita terhubung ke internet, melainkan oleh seberapa serius kita mengelola waktu dan potensi diri.
Menjadi generasi berprestasi bukanlah tentang menolak kemajuan zaman, tetapi tentang mampu mengendalikannya. Ketika disiplin dan kesadaran diri tumbuh, teknologi tidak lagi menjadi distraksi, melainkan jembatan menuju pencapaian yang lebih besar.


























