Acehvoice.net, ACEH TIMUR – Di tengah maraknya pengadaan mobil dinas, rumah dinas mewah, dan fasilitas berkelas di kalangan pejabat, sebuah keputusan berbeda datang dari Aceh Timur. Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, memilih langkah populis yang berpihak kepada rakyat. Ia membatalkan rencana pembelian mobil dinas senilai Rp850 juta, lalu mengalihkan anggaran tersebut untuk membangun jembatan di Gampong Alue Ie Mirah, Kecamatan Pante Bidari, yang telah ambruk lebih dari setahun.
Bagi warga Gampong Alue Ie Mirah, keputusan ini bukan sekadar kebijakan biasa. Selama setahun terakhir, mereka harus mempertaruhkan nyawa menyeberangi batang kelapa yang licin untuk mengangkut hasil kebun atau mengantar anak-anak ke sekolah. Dengan dibangunnya kembali jembatan ini, akses vital yang menjadi urat nadi kehidupan warga akan pulih.
Iskandar tidak banyak berbicara atau membuat janji manis. Ia langsung bertindak tanpa mencari sorotan media. “Biarlah saya tidak punya mobil dinas, asal rakyat tidak menyeberang di atas maut,” ujarnya singkat. Langkah ini menjadi contoh nyata bahwa kepemimpinan sejati adalah mengutamakan kebutuhan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Kontras dengan keputusan Iskandar, di daerah lain justru ada pejabat yang lebih mementingkan fasilitas pribadi. Bahkan, ada bupati yang memilih menempati rumah dinas wakil bupati karena dianggap lebih baru dan mewah, sementara wakilnya harus menempati rumah dinas lama. Fenomena ini menunjukkan bahwa mentalitas “gengsi” masih mengakar di sebagian pejabat, meski kondisi daerah terbatas secara anggaran.
Keputusan Iskandar menjadi tamparan halus bagi pejabat yang hanya mengejar simbol kekuasaan. Di saat sebagian memilih membangun citra, Iskandar membangun infrastruktur yang menyelamatkan nyawa. Di republik yang kerap mengeluh miskin, ia membuktikan bahwa pengalihan satu pos anggaran pribadi bisa membawa perubahan besar bagi sebuah desa.
Warga Pante Bidari akan mengingatnya bukan sebagai pejabat dengan mobil mewah, tetapi sebagai bupati yang memastikan anak-anak mereka bisa berangkat sekolah dengan aman. Di tengah deru mobil dinas di kantor lain, langkah Iskandar menegaskan siapa pemimpin yang benar-benar layak disebut “Yang Mulia” — bukan karena kemewahan, tetapi karena pengorbanan untuk rakyat.


























