• Latest
  • Trending
  • All

Kartini dalam Hegemoni Seremonial : Dekonstruksi Kegagalan Kebijakan Gender di Aceh

21 April 2026
Indonesia Naik ke Peringkat Tiga Grup A Piala AFF 2026

Indonesia Naik ke Peringkat Tiga Grup A Piala AFF 2026

28 Juli 2026
Aceh Resmi Masuki Fase Rehab-Rekon Pascabencana Hidrometeorologi

Aceh Resmi Masuki Fase Rehab-Rekon Pascabencana Hidrometeorologi

28 Juli 2026
Bupati Al-Farlaky Buka Khitan Massal Baitul Mal, 118 Anak Terima Layanan dan Santunan

Bupati Al-Farlaky Buka Khitan Massal Baitul Mal, 118 Anak Terima Layanan dan Santunan

27 Juli 2026
Bupati Al-Farlaky Percepat Pembangunan Huntap Serba Jadi

Bupati Al-Farlaky Percepat Pembangunan Huntap Serba Jadi

27 Juli 2026
Khalid Turun Tangan, Korban Pembacokan di Pidie Akhirnya Mendapat Perawatan

Khalid Turun Tangan, Korban Pembacokan di Pidie Akhirnya Mendapat Perawatan

27 Juli 2026
Mualem Minta Anggaran Rp2,5 Triliun dari Kementan Dimaksimalkan untuk Pulihkan Sawah dan Kebun Aceh

Mualem Minta Anggaran Rp2,5 Triliun dari Kementan Dimaksimalkan untuk Pulihkan Sawah dan Kebun Aceh

27 Juli 2026
Menteri Ekraf Dukung Garuda Finishers untuk Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas,

Menteri Ekraf Dukung Garuda Finishers untuk Perkuat Ekonomi Kreatif Berbasis Komunitas,

26 Juli 2026
DPRK Banda Aceh Setujui Raqan APBK 2025

DPRK Banda Aceh Setujui Raqan APBK 2025

26 Juli 2026
Wabup Aceh Timur Bantah Tuduhan Dun Belanda, Beri Waktu 2×24 Jam untuk Klarifikasi

Wabup Aceh Timur Bantah Tuduhan Dun Belanda, Beri Waktu 2×24 Jam untuk Klarifikasi

26 Juli 2026
DPR Aceh Bahas Legislasi dan Revisi UUPA

DPR Aceh Bahas Legislasi dan Revisi UUPA

26 Juli 2026

Bupati Al-Farlaky Terima Permintaan Maaf Dun Belanda, Ajak Masyarakat Bijak Bermedia Sosial

25 Juli 2026

Bunda PAUD Aceh Timur Ajak Semua Pihak Bangun Generasi Tangguh, Hari Anak Nasional Jadi Momentum Penuhi Hak Anak

25 Juli 2026
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
Kamis, Juli 30, 2026
  • Login
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN
No Result
View All Result
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
No Result
View All Result
Home Opini

Kartini dalam Hegemoni Seremonial : Dekonstruksi Kegagalan Kebijakan Gender di Aceh

Fazil by Fazil
21 April 2026
in Opini
0
501
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. Dr. Teuku Muhammad Jamil, M.Si. Pengamat Sosial dan Akademisi USK Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

ADVERTISEMENT

acehvoice.net — Banda Aceh — Setiap tanggal 21 April, Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota secara rutin mereproduksi perayaan Hari Kartini dalam format yang nyaris identik dari tahun ke tahun: seremoni, seminar, lomba simbolik, dan publikasi citra kelembagaan. Dalam narasi resmi yang dibangun, perempuan seolah telah ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang setara. Namun, konstruksi narasi tersebut justru menyembunyikan problem struktural yang belum terselesaikan.

BacaJuga

MENGGALI INTERSEKSIONALITAS DALAM ISU GENDER DAN KEADILAN SOSIAL DALAM ACEH

Di sinilah letak persoalan mendasarnya: terjadi disjungsi antara representasi simbolik dan realitas kebijakan. Negara—dalam hal ini pemerintah daerah—cenderung menginstrumentalisasi figur Kartini sebagai legitimasi moral, tanpa diikuti oleh transformasi kebijakan yang substantif. Kartini direduksi menjadi ikon seremonial, sementara gagasan emansipatorisnya justru dieliminasi dari ruang pengambilan keputusan.

ADVERTISEMENT

Jika ditelaah secara lebih empiris, kinerja Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) di berbagai daerah di Aceh memperlihatkan kecenderungan administratif-prosedural yang kuat, tetapi lemah dalam capaian transformatif. Program-program yang dijalankan lebih berorientasi pada output kegiatan ketimbang outcome perubahan sosial. Pertanyaan krusial yang jarang dijawab secara transparan adalah: sejauh mana intervensi kebijakan tersebut mampu meningkatkan bargaining position perempuan dalam struktur sosial, ekonomi, dan politik?

Ketiadaan indikator dampak yang jelas menunjukkan bahwa logika birokrasi masih terjebak pada orientasi pelaporan, bukan perubahan. Dalam perspektif kebijakan publik, ini mencerminkan kegagalan dalam membangun evidence-based policy yang berorientasi pada keadilan gender.

Lebih problematis lagi, sejumlah produk regulasi daerah justru memperkuat mekanisme kontrol terhadap perempuan. Atas nama moralitas dan ketertiban sosial, tubuh dan ruang gerak perempuan diatur secara ketat, sementara negara belum optimal dalam menjamin perlindungan terhadap perempuan dari kekerasan struktural maupun domestik. Paradoks ini menegaskan bahwa pendekatan kebijakan yang diambil masih bersifat paternalistik—bukan emansipatoris.

ADVERTISEMENT

Dalam konteks politik lokal, representasi perempuan juga masih bersifat minimal dan cenderung simbolik. Kehadiran perempuan dalam jabatan strategis sering kali tidak diikuti dengan distribusi kekuasaan yang setara dalam proses pengambilan keputusan. Dengan kata lain, perempuan dihadirkan sebagai complementary actors, bukan sebagai decision makers. Ini menunjukkan adanya hambatan struktural yang belum diatasi secara serius oleh pemerintah daerah.

Sektor pendidikan, yang seharusnya menjadi arena transformasi kesadaran kritis, justru turut mereproduksi banalitas pemaknaan Kartini. Kurikulum dan praktik pembelajaran masih menempatkan Kartini dalam kerangka estetika-kultural—kebaya, lomba, dan seremoni—bukan sebagai pemikir kritis yang menggugat ketidakadilan sosial. Akibatnya, generasi muda mengalami reduksi makna : Kartini dipahami sebagai simbol, bukan sebagai epistemologi perlawanan.

Jika pola ini terus berlangsung, maka yang sebenarnya diproduksi oleh negara adalah ilusi emansipasi. Sebuah konstruksi semu yang menampilkan kesetaraan sebagai sesuatu yang telah dicapai, padahal secara struktural masih jauh dari realitas.

Oleh karena itu, kritik ini perlu ditegaskan secara terbuka: Pemerintah Aceh dan seluruh jajaran pemerintah daerah harus menghentikan praktik komodifikasi Hari Kartini sebagai instrumen pencitraan tahunan. Yang dibutuhkan bukan reproduksi seremoni, melainkan keberanian untuk melakukan reposisi kebijakan secara fundamental.

Pertama, diperlukan pergeseran dari pendekatan simbolik menuju intervensi berbasis dampak yang terukur, khususnya dalam peningkatan akses pendidikan, kemandirian ekonomi, dan perlindungan hukum bagi perempuan.

Kedua, pemerintah daerah harus membuka ruang kepemimpinan perempuan secara substantif dengan memastikan keterlibatan aktif perempuan dalam seluruh tahapan siklus kebijakan—dari perumusan hingga evaluasi.

Ketiga, reformasi regulasi menjadi keharusan, dengan meninggalkan pendekatan kontrolistik dan beralih pada kerangka kebijakan yang berorientasi pada keadilan dan hak asasi.

Keempat, sektor pendidikan perlu didorong menjadi ruang produksi kesadaran kritis, dengan mengintegrasikan perspektif gender secara sistematis dalam kurikulum dan praktik pembelajaran.

Kartini tidak pernah mengajarkan perayaan tanpa perubahan. Ia mengajarkan keberanian berpikir, keberanian menggugat, dan keberanian melampaui batas-batas yang dikonstruksi oleh kekuasaan.

Jika pemerintah daerah tidak mampu—atau tidak memiliki kehendak politik—untuk menghadirkan perubahan tersebut, maka setiap peringatan Hari Kartini di Aceh tidak lebih dari ritual tahunan yang menormalisasi kegagalan. Sudah saatnya publik berhenti menjadi audiens yang pasif.

Dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar : untuk siapa Kartini terus dirayakan, dan siapa yang sesungguhnya ditinggalkan?

Sagoe Kampus USK, 21 April 2026.

Tags: Hari KartiniKartiniKebijakan GenderKesetaraan GenderPerempuan Aceh
SendShare200Tweet125Share
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

MENGGALI INTERSEKSIONALITAS DALAM ISU GENDER DAN KEADILAN SOSIAL DALAM ACEH

MENGGALI INTERSEKSIONALITAS DALAM ISU GENDER DAN KEADILAN SOSIAL DALAM ACEH

by Fazil
19 November 2024
0
1.5k

Oleh: Alqadri Naufal Akbar, Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry Banda...

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kapan PPPK 2024 dibuka? Berikut Penjelasan Menpan-RB

Operator Layanan Operasional PPPK: Peran, Tanggung Jawab, dan Keterampilan yang Dibutuhkan

4 September 2024
Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

28 Agustus 2024
Vidu AI Studio: Solusi Cerdas untuk Pembuatan dan Pengeditan Video

Vidu Studio: Tutorial Menggunakan Langkah demi Langkah

26 Agustus 2024
PPPK Bisa Ikut Seleksi CASN Agustus 2024

Jadwal Lengkap Seleksi CPNS 2024 Diumumkan

1

Final, DPP PA Tetapkan Al-Farlaky Calon Bupati Aceh Timur

1
Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

1
Indonesia Naik ke Peringkat Tiga Grup A Piala AFF 2026

Indonesia Naik ke Peringkat Tiga Grup A Piala AFF 2026

28 Juli 2026
Aceh Resmi Masuki Fase Rehab-Rekon Pascabencana Hidrometeorologi

Aceh Resmi Masuki Fase Rehab-Rekon Pascabencana Hidrometeorologi

28 Juli 2026
Bupati Al-Farlaky Buka Khitan Massal Baitul Mal, 118 Anak Terima Layanan dan Santunan

Bupati Al-Farlaky Buka Khitan Massal Baitul Mal, 118 Anak Terima Layanan dan Santunan

27 Juli 2026
ADVERTISEMENT
acevoice.net

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Menu Navigasi

  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In