acehvoice.net – Banda Aceh — Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Aceh bersama Lazisku KB PII dan Keluarga Besar PII Aceh menuntaskan ekspedisi kemanusiaan selama 14 hari untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana hidrometeorologi di Aceh.
Aksi kemanusiaan ini merupakan respons atas kondisi darurat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Melalui penggalangan donasi, PII Aceh berhasil menghimpun bantuan berupa bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya dengan total mencapai sekitar 3 ton barang.
Relawan PII Aceh dan Lazisku dilepas secara resmi pada Jumat, 12 Desember 2025, oleh Ketua Umum KB PII Aceh, Dr. Muslem Yacob, S.Ag., M.Pd, di Sekretariat PW PII Aceh, Kota Banda Aceh. Ekspedisi ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PW PII Aceh, Mohd Rendi Febriansyah.
Bantuan didistribusikan ke lima kabupaten terdampak, yakni Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah. Namun, perjalanan para relawan tidaklah mudah. Banyaknya jalan dan jembatan yang rusak akibat banjir membuat proses distribusi bantuan penuh tantangan.
“Sebagaimana kita ketahui, akses penghubung antarwilayah di Aceh mengalami kerusakan di banyak titik, baik jalan maupun jembatan. Hal ini membuat distribusi bantuan menjadi sulit dan memakan waktu lama. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para relawan,” ujar Rendi.

Kabupaten Bireuen menjadi tujuan pertama ekspedisi. Selanjutnya, tim melanjutkan perjalanan ke Aceh Utara dan Aceh Tamiang. Untuk mencapai dua wilayah tersebut, relawan harus menyeberangi Sungai di kawasan Jembatan Kutablang, Bireuen, yang terputus akibat banjir. Penyeberangan dilakukan dengan risiko tinggi, difasilitasi oleh pihak terkait. Distribusi di tiga kabupaten ini menghabiskan waktu hingga tujuh hari.
“Walaupun medan yang kami lalui jauh dari kata normal, hati kami terasa lega ketika melihat senyum masyarakat saat kami tiba. Mereka menerima kami seperti keluarga sendiri. Inilah karakter masyarakat Aceh yang sesungguhnya,” ungkap Rendi.
Sepanjang perjalanan, relawan menyaksikan kerusakan lingkungan dan fasilitas publik yang cukup parah. Menurut Rendi, bencana ini tidak hanya berdampak secara material, tetapi juga secara fisik dan mental bagi masyarakat terdampak.
“Wajah-wajah tegar yang kami temui tidak sepenuhnya mampu menutupi kesedihan mereka. Namun kami bangga menjadi saudara dari orang-orang Aceh, yang memiliki kesabaran dan rasa syukur luar biasa,” katanya.
Setelah menyelesaikan distribusi di wilayah pesisir dan timur Aceh, ekspedisi dilanjutkan ke wilayah tengah, yakni Bener Meriah dan Aceh Tengah, mulai Kamis, 18 Desember 2025. Medan di wilayah ini dinilai jauh lebih ekstrem, dengan banyak titik longsor dan jalur yang sulit dilalui.

“Untuk menuju Bener Meriah dan Aceh Tengah, kami harus memikul bantuan sekitar 200 kilogram melewati jembatan terjal dan aliran sungai yang deras. Kami berjalan kurang lebih dua kilometer dengan kondisi jalan berlumpur dan licin. Sangat melelahkan, tetapi rasa cinta kami kepada rakyat Aceh menjadi sumber kekuatan,” ujar Rendi.
Di wilayah tengah Aceh, relawan juga menembus daerah-daerah pelosok yang terisolasi. Sepanjang perjalanan, mereka menyaksikan kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Banyak warga harus mempertaruhkan keselamatan demi mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Ekspedisi kemanusiaan ini resmi berakhir pada Kamis, 25 Desember 2025, dengan kembalinya para relawan ke Banda Aceh. Perjalanan panjang tersebut meninggalkan beragam kesan emosional bagi tim relawan.
“Sedih melihat kondisi Aceh, bahagia bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat, dan marah ketika mengetahui masih adanya oknum yang tidak bertanggung jawab,” tutur Rendi.
Ia menegaskan bahwa ekspedisi ini dilakukan untuk memastikan bantuan benar-benar sampai ke tangan korban terdampak, bukan disalahgunakan oleh pihak tertentu.
“Kami sering menerima kabar bahwa bantuan kemanusiaan kerap ‘dimainkan’ oleh oknum tertentu. Karena itu, kami memilih turun langsung untuk memastikan amanah donatur tersalurkan dengan baik,” tegasnya.
Ke depan, PW PII Aceh berencana melanjutkan aksi kemanusiaan dengan mendistribusikan paket pendidikan bagi para pelajar terdampak bencana di kabupaten dan kota lainnya. Menurut Rendi, keberlanjutan pendidikan harus menjadi perhatian semua pihak, meskipun dalam kondisi darurat.
Ia menambahkan, perjalanan ini merupakan panggilan hati yang berangkat dari nilai dan ideologi keislaman yang ditanamkan dalam PII.
“PII lahir dari umat dan harus berbuat untuk umat. Aksi kemanusiaan bukan pilihan, melainkan kewajiban setiap organisasi,” pungkasnya.


























