Ditulis/disusun oleh: Muhammad Ramadhanur Halim, S,H.I.,
Di tengah malam yang sunyi, suara gemuruh air dan longsoran tanah membangunkan ribuan jiwa. Bukan mimpi buruk, melainkan kenyataan pahit yang menyapu rumah, harapan, dan nyawa. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kini tidak hanya basah oleh hujan, tapi juga oleh air mata. Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah jeritan bumi yang lelah, tubuh tanah yang luka dan langit yang tak lagi mampu menahan beban. Ketika sungai meluap dan bukit runtuh, kita dipaksa menatap wajah kita sendiri di cermin alam yang retak.
Kepada para korban, kami tunduk dalam duka. Tidak ada kata yang cukup untuk menggantikan kehilangan. Namun, dalam setiap pelukan yang tertunda dan doa yang terucap, semoga ada kekuatan yang tumbuh. Kami tidak akan membiarkan suara kalian tenggelam dalam lumpur dan diam.
Kepada pemerintah pusat, inilah saatnya untuk mendengar lebih dari sekadar laporan. Ini bukan sekadar angka korban atau peta kerusakan. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang menuntut pengakuan: bahwa ini adalah bencana nasional. Penetapan status bencana nasional bukan soal prosedur administratif. Ini adalah pengakuan atas skala penderitaan, dan komitmen untuk hadir sepenuhnya. Ini adalah bentuk tanggung jawab negara kepada rakyatnya yang sedang terpuruk.
Ketika jembatan runtuh dan jalan terputus, bukan hanya akses logistik yang hilang, tapi juga harapan. Ketika anak-anak mengungsi tanpa tahu kapan bisa kembali ke sekolah, kita sedang mempertaruhkan masa depan. Namun, di balik semua ini, ada pertanyaan yang tak bisa dihindari: mengapa bencana ini terjadi begitu dahsyat? Mengapa air yang dulu menghidupi kini menenggelamkan? Mengapa tanah yang dulu subur kini longsor tanpa ampun?
Jawabannya tidak hanya ada pada curah hujan yang tinggi atau anomali iklim. Jawabannya juga ada pada tangan-tangan kita sendiri. Pada hutan yang ditebang tanpa ampun. Pada bukit yang digerogoti tambang. Pada sungai yang disumbat oleh limbah dan keserakahan. Secara ilmiah, banjir dan longsor adalah akibat dari hilangnya daya serap tanah, rusaknya tutupan vegetasi dan terganggunya keseimbangan hidrologis. Ketika akar-akar pohon tak lagi menahan tanah, maka hujan menjadi senjata, bukan berkah.
Kepada para pelaku perusakan hutan, lihatlah hasil dari keserakahan itu. Bukan hanya pohon yang tumbang, tapi juga rumah-rumah rakyat. Bukan hanya tanah yang digali, tapi juga kubur bagi anak-anak yang tak sempat diselamatkan. Ini bukan saatnya saling menyalahkan, tapi juga bukan saatnya menutup mata. Kita harus berani berkata: kerusakan lingkungan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Dan bencana ini adalah bukti paling nyata.
Pemerintah daerah telah berjuang. Relawan telah turun. Tapi skala bencana ini melampaui kapasitas lokal. Maka, pemerintah pusat harus hadir sepenuhnya, bukan hanya lewat kunjungan singkat atau bantuan simbolik. Kita butuh koordinasi nasional. Kita butuh mobilisasi sumber daya negara. Kita butuh pemulihan yang tidak hanya tambal sulam, tapi menyentuh akar persoalan: dari rehabilitasi lingkungan hingga reformasi tata ruang.
Kepada para pemimpin, ini bukan soal popularitas atau pencitraan. Ini soal nyawa. Ini soal amanah. Dan amanah itu kini sedang diuji di tanah Sumatera yang basah oleh duka.
Kepada masyarakat Indonesia, mari kita buka mata dan hati. Jangan biarkan tragedi ini menjadi berita sesaat. Jadikan ini momentum untuk menuntut keadilan ekologis dan solidaritas nasional. Kita tidak bisa terus hidup dalam siklus: rusak, bencana, tangis, lupa, rusak lagi. Kita harus memutus rantai ini. Dan itu dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa alam telah kita khianati.
Di balik reruntuhan rumah, ada reruntuhan kebijakan. Di balik banjir, ada banjir izin eksploitasi. Di balik longsor, ada longsornya komitmen terhadap keberlanjutan. Maka, mari kita bangun kembali, bukan hanya fisik, tapi juga kesadaran. Mari kita tanam kembali, bukan hanya pohon, tapi juga nilai-nilai tanggung jawab dan cinta pada bumi.
Pendidikan lingkungan harus menjadi arus utama. Penegakan hukum lingkungan harus tegas dan adil. Dan yang paling penting, partisipasi masyarakat harus diberdayakan, bukan dibungkam. Kita tidak bisa berharap pada langit jika kita sendiri terus melukai bumi. Doa tanpa aksi adalah kesia-siaan. Tapi aksi tanpa doa adalah kesombongan. Maka mari kita padukan keduanya.
Kepada Allah kita berserah, tapi kepada manusia kita bertanggung jawab. Karena bumi ini adalah amanah, bukan warisan. Dan anak cucu kita berhak atas tanah yang lestari, bukan ladang bencana. Jangan tunggu korban bertambah. Jangan tunggu jeritan menjadi sunyi. Jangan tunggu dunia menegur kita. Segera tetapkan status bencana nasional, dan jadikan ini titik balik menuju keadilan ekologis. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa memperbaiki masa depan. Dengan keberanian, dengan empati dan dengan ilmu pengetahuan yang berpihak pada kehidupan.
Sumatera sedang mengajar kita semua: bahwa pembangunan tanpa etika adalah kehancuran. Bahwa kemajuan tanpa keseimbangan adalah ilusi. Dan bahwa alam, jika dilukai, akan membalas dengan cara yang tak terduga. Mari kita dengarkan tangisan tanah. Mari kita jawab dengan tindakan. Karena jika kita diam, maka kita sedang menandatangani kontrak untuk bencana berikutnya. Dan saat itu tiba, mungkin tak ada lagi yang bisa kita selamatkan.[]
(Segala bentuk informasi yang ada dalam tulisan ini merupakan tanggungjawab penulis).


























