Acehvoice.net, YOGYAKARTA – Pakar Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tunjung Sulaksono, menilai menteri baru hasil reshuffle Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo Subianto perlu berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan publik. Menurutnya, kemampuan komunikasi politik dan keterampilan berbicara di depan umum menjadi kunci penting agar tidak menimbulkan kontroversi baru di tengah masyarakat.
“Komunikasi politik dan public speaking harus terus ditingkatkan oleh para menteri baru. Setiap pernyataan akan menjadi sorotan publik, sehingga kesalahan kecil pun bisa berimplikasi besar,” kata Tunjung dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (9/9/2025).
Ia menegaskan, reshuffle yang mengganti lima menteri merupakan langkah strategis pemerintah dalam merespons ketidakpuasan publik. Pergantian ini juga disebut tidak lepas dari tekanan gerakan “17+8” yang mendesak perbaikan kinerja serta transparansi pemerintah.
Tunjung menekankan bahwa para menteri baru tidak cukup hanya menunjukkan kinerja yang baik, tetapi harus segera mengambil langkah konkret yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Ia menilai program-program cepat atau quick wins sangat penting, khususnya dalam 100 hari pertama masa jabatan, terutama di sektor ekonomi dan ketenagakerjaan.
“Menteri baru harus mampu menyelesaikan persoalan yang memicu kemarahan publik. Program yang dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat akan memperkuat kepercayaan terhadap pemerintah,” ujarnya.
Dari sisi ilmu pemerintahan, Tunjung menyebut ada tiga alasan utama reshuffle dilakukan. Pertama, faktor kinerja yang dinilai belum maksimal, terutama di bidang-bidang krusial. Kedua, pertimbangan politis untuk meredam ketegangan akibat kontroversi atau ketidakpuasan masyarakat terhadap pejabat tertentu.
Ketiga, alasan yuridis, termasuk kasus hukum yang menjerat pejabat sebelumnya, turut menjadi pertimbangan Presiden Prabowo dalam mengambil keputusan. “Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga menyebut salah satu faktor reshuffle adalah gejolak demonstrasi yang terjadi pada akhir Agustus 2025 lalu,” jelas Tunjung.
Dengan reshuffle ini, ia berharap kabinet baru bisa menghadirkan stabilitas politik sekaligus memperbaiki kinerja pemerintahan. Menurutnya, keberhasilan para menteri baru dalam 100 hari pertama akan sangat menentukan persepsi publik terhadap efektivitas reshuffle yang dilakukan Presiden Prabowo.


























