acehvoice.net – Aceh Tamiang — Bangunan Pondok Pesantren Darul Mukhlisin di Kampung Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, masih berdiri kokoh pasca banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Pesantren itu menjadi satu-satunya bangunan yang tampak utuh di tengah kawasan permukiman yang kini tertutup jutaan batang kayu gelondongan.
Kondisi di sekitar pesantren memperlihatkan kontras yang mencolok. Hampir seluruh rumah warga tidak lagi terlihat karena tertimbun kayu-kayu besar yang terbawa arus banjir. Bangunan pesantren yang menghadap ke arah selatan diketahui menjadi penahan utama kayu gelondongan sehingga mencegah kerusakan meluas hingga ke jalan utama kota.
“Rumah kami semua habis. Kalau saja pesantren itu tidak ada, atau air sedikit lebih tinggi, kayu-kayu itu pasti menghancurkan semuanya sampai ke pusat kota,” ujar Nazril, salah satu remaja terdampak banjir, Senin (23/12/2025).
Nazril juga mengungkapkan bahwa banyak kayu gelondongan yang ditemukan bertuliskan angka-angka tertentu. Ia menduga kayu tersebut berasal dari aktivitas pembalakan di wilayah hulu Aceh Tamiang yang memperparah kerusakan hutan dan memicu banjir besar.
Saat ini, proses pemindahan kayu-kayu gelondongan mulai dilakukan menggunakan alat berat. Namun, warga mengaku tidak mengetahui ke mana kayu tersebut akan dibawa. Mereka juga menyayangkan larangan pemanfaatan kayu oleh warga, meskipun kayu-kayu itu telah menghancurkan tempat tinggal mereka.
“Kayu kecil saja mau kami ambil untuk menyalakan api langsung dimarahi. Padahal kayu-kayu inilah yang merusak rumah kami,” ujar seorang remaja lainnya.
Warga menilai kebijakan yang mewajibkan pengurusan izin dan administrasi untuk memanfaatkan kayu tersebut sebagai aturan yang tidak adil. Menurut mereka, kayu-kayu itu datang tanpa izin dan telah menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat.


























