• Latest
  • Trending
  • All
Hardikda ke-67 dan Jalan Panjang Pendidikan Aceh: Dari Tugu Pena, Darussalam, hingga Masa Depan Peradaban

Hardikda ke-67 dan Jalan Panjang Pendidikan Aceh: Dari Tugu Pena, Darussalam, hingga Masa Depan Peradaban

2 September 2026
Taman Kota Laboratorium Karakter Anak-Anak

Taman Kota Laboratorium Karakter Anak-Anak

2 September 2026
PP HIMMAH Tunjuk Umar Banta Ali Sebagai Plt Ketua PW HIMMAH Aceh, Siap Sukseskan Konferwil 2026-2030

PP HIMMAH Tunjuk Umar Banta Ali Sebagai Plt Ketua PW HIMMAH Aceh, Siap Sukseskan Konferwil 2026-2030

2 September 2026
Polisi Amankan Mobil Angkut 600 Liter BBM Subsidi Jenis Bio Solar di Banda Aceh

Polisi Amankan Mobil Angkut 600 Liter BBM Subsidi Jenis Bio Solar di Banda Aceh

2 September 2026
Hardikda Aceh dan Wajah Pendidikan yang Harus Kita Benahi

Hardikda Aceh dan Wajah Pendidikan yang Harus Kita Benahi

2 September 2026
Kasus Kekerasan Pelajar di Bener Meriah, Brigade PII Aceh: Jangan Ada Toleransi, Pelaku Harus Ditindak Tegas!

Kasus Kekerasan Pelajar di Bener Meriah, Brigade PII Aceh: Jangan Ada Toleransi, Pelaku Harus Ditindak Tegas!

31 Agustus 2026
Maulid Nabi: Mengenang Rasulullah dan Meneladani Akhlaknya

Maulid Nabi: Mengenang Rasulullah dan Meneladani Akhlaknya

30 Agustus 2026
Pengendara Becak Motor Tewas Tabrak Dump Truck di Abdya

Pengendara Becak Motor Tewas Tabrak Dump Truck di Abdya

30 Agustus 2026
Al-Farlaky Raih Serambi Award 2026

Al-Farlaky Raih Serambi Award 2026

30 Agustus 2026

Ulama Aceh Raih Kepercayaan Besar di Muktamar NU, Waled Nu Masuk 9 Anggota AHWA

30 Agustus 2026
KABS Antar Aceh Barat Raih Serambi Awards 2026

KABS Antar Aceh Barat Raih Serambi Awards 2026

30 Agustus 2026
Kapolres Aceh Timur Tegaskan Larangan Bakar Hutan dan Lahan

Kapolres Aceh Timur Tegaskan Larangan Bakar Hutan dan Lahan

30 Agustus 2026
Imigrasi Banda Aceh Deportasi WN Pakistan, Ajukan Penangkalan

Imigrasi Banda Aceh Deportasi WN Pakistan, Ajukan Penangkalan

30 Agustus 2026
  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber
Kamis, September 3, 2026
  • Login
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN
No Result
View All Result
Informasi Berita Terbaru Terkini Hari Ini
No Result
View All Result
Home Opini

Hardikda ke-67 dan Jalan Panjang Pendidikan Aceh: Dari Tugu Pena, Darussalam, hingga Masa Depan Peradaban

Fazil by Fazil
2 September 2026
in Opini
0
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mulyadi, SH.I, M.Sos
Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur

ADVERTISEMENT

acehvoice.net – Ada satu kenangan masa lalu yang hingga hari ini masih melekat kuat dalam ingatan saya. Ketika menempuh pendidikan di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, pada sebuah momentum Ospek Fakultas, seorang mentor tiba-tiba mengajukan pertanyaan sederhana kepada kami: “Apa kata-kata yang tertulis pada Tugu Pena?” Kami terdiam. Tidak seorang pun mampu menjawab.

BacaJuga

Disporapar Resmikan Pokdarwis Situs Cagar Budaya Kerajaan Islam Samudera Pasai

Bukan karena kami tidak pandai membaca, melainkan karena tugu itu memang selama ini hanya menjadi sesuatu yang kami lewati. Ia berdiri di kawasan Simpang Mesra, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kesadaran kami. Kami melihat bentuknya, tetapi gagal membaca pesannya.

ADVERTISEMENT

Pada akhirnya mentor itu memberikan jawabannya: “Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar.” Kalimat sederhana itu justru menjadi tamparan intelektual pertama: bahwa seorang mahasiswa tidak cukup hanya belajar untuk dirinya sendiri; ilmu harus menemukan maknanya dalam perjuangan kehidupan.

Ketika Sebuah Tugu Berbicara Lebih Dalam daripada Sebuah Buku

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, saya memahami bahwa pertanyaan mentor pada masa Ospek itu sesungguhnya bukan sekadar kuis untuk menguji ingatan mahasiswa baru. Ia sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: jangan hanya melihat simbol, tetapi bacalah gagasan yang berada di baliknya.

ADVERTISEMENT

Tugu Pena bukan sekadar bangunan di persimpangan jalan. Ia menyimpan filsafat pendidikan Aceh: pena sebagai lambang ilmu, perjuangan sebagai jalan pengabdian, dan belajar sebagai proses yang tidak pernah selesai. Ironisnya, sesuatu yang setiap hari berada di depan mata justru sering menjadi sesuatu yang paling tidak kita perhatikan.

Mungkin begitulah manusia memperlakukan ilmu; kita sering berada sangat dekat dengan pengetahuan, tetapi belum tentu memahami maknanya. Kita memiliki sekolah, kampus, dayah, perpustakaan, bahkan teknologi, tetapi pertanyaan terbesarnya tetap sama: untuk apa semua ilmu itu kita miliki?

“Belajar Sambil Berjuang”: Ilmu Tidak Boleh Berhenti di Ruang Kelas

Ungkapan “Belajar Sambil Berjuang” mengandung pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar motivasi mahasiswa. Belajar adalah proses membentuk kesadaran, sedangkan berjuang adalah proses mengubah kesadaran menjadi tindakan. Ilmu yang hanya berhenti di kepala akan menjadi pengetahuan pribadi; ilmu yang turun menjadi tindakan dapat menjadi kekuatan sosial.

Karena itu, pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab soal, memperoleh gelar, atau mengumpulkan sertifikat. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu membaca persoalan, memahami penderitaan, menemukan jalan keluar, dan mengambil bagian dalam memperbaiki keadaan.

Ilmu harus memiliki keberpihakan kepada kebenaran, kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan. Di situlah pendidikan menemukan martabatnya: ketika apa yang dipelajari tidak hanya memperbesar kapasitas diri, tetapi juga memperluas manfaat bagi orang lain.

“Berjuang Sambil Belajar”: Perjuangan Juga Sebuah Sekolah

Tetapi kalimat itu tidak berhenti pada belajar sambil berjuang. Ada bagian kedua yang tidak kalah penting: “Berjuang Sambil Belajar.” Artinya, perjuangan itu sendiri merupakan sekolah kehidupan. Tidak semua pengetahuan dapat ditemukan di ruang kuliah. Ada pelajaran yang hanya dapat diperoleh ketika seseorang berhadapan dengan kemiskinan, ketidakadilan, keterbatasan, kegagalan, konflik, kesunyian, dan tanggung jawab.

Di sanalah teori diuji oleh kenyataan. Seseorang mungkin menguasai banyak buku, tetapi kehidupan mengajarkannya tentang empati. Seseorang mungkin memahami konsep kepemimpinan, tetapi perjuangan mengajarkannya tentang keteladanan. Karena itu, pendidikan yang sesungguhnya berlangsung sepanjang hayat. Kita belajar sebelum berjuang, belajar ketika berjuang, bahkan belajar dari setiap akibat perjuangan yang kita jalani.

Dari Tugu Pena Menuju Darussalam: Pendidikan sebagai Proyek Peradaban

Kenangan tentang Tugu Pena itu kemudian membawa ingatan saya kepada gagasan yang lebih besar tentang pendidikan Aceh: Darussalam. Pada 2 September 1959, Aceh menorehkan salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan melalui peresmian Kota Pelajar dan Mahasiswa Darussalam. Dari tempat itu, pendidikan Aceh dibangun dengan sebuah keyakinan besar bahwa masa depan tidak cukup diperjuangkan dengan kekuatan politik dan pembangunan fisik, tetapi harus dimulai dari pembangunan manusia.

Itulah sebabnya Hardikda tidak semestinya hanya dipahami sebagai peringatan sebuah tanggal. Ia adalah pengingat bahwa para pendahulu pernah memiliki keberanian untuk bermimpi besar dan menerjemahkan mimpi itu menjadi institusi pendidikan. Mereka tidak sekadar berbicara tentang masa depan Aceh; mereka membangun manusia yang dipersiapkan untuk mengisinya.

67 Tahun Hardikda: Apakah Kita Masih Memahami Pesannya?

Kini Aceh telah melewati perjalanan panjang hingga memperingati Hari Pendidikan Daerah ke-67. Gedung sekolah bertambah, perguruan tinggi berkembang, teknologi semakin mudah diakses, dan kesempatan memperoleh pendidikan semakin terbuka. Namun kemajuan fisik dan administratif belum otomatis berarti kemajuan peradaban.

Pertanyaan yang lebih mendasar justru harus kita ajukan: apakah pendidikan kita telah membuat manusia Aceh semakin berilmu, semakin berakhlak, semakin kritis, semakin mandiri, dan semakin bermanfaat? Sebab pendidikan tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak anak yang masuk sekolah atau berapa banyak lulusan yang memperoleh ijazah.

Ukuran paling fundamental adalah perubahan kualitas manusia. Jika sekolah bertambah tetapi kejujuran berkurang, jika teknologi maju tetapi adab mundur, jika gelar meningkat tetapi kepedulian sosial melemah, maka kita perlu berani melakukan evaluasi secara lebih mendalam.

Pendidikan Aceh Harus Menyatukan Ilmu, Iman, dan Kebudayaan

Aceh memiliki warisan pendidikan yang sangat khas. Jauh sebelum sistem pendidikan modern berkembang, masyarakat Aceh telah mengenal dayah, meunasah, balai pengajian, ulama, dan berbagai tradisi keilmuan. Karena itu, pendidikan Aceh seharusnya tidak mengalami keterputusan antara agama, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Anak Aceh harus mampu menguasai sains tanpa kehilangan iman; menguasai teknologi tanpa kehilangan adab; memahami dunia global tanpa melupakan sejarah tanah kelahirannya. Kita tidak sedang menghendaki generasi yang mundur karena terlalu takut terhadap perubahan.

Sebaliknya, kita membutuhkan generasi yang mampu berdiri di tengah perubahan dengan akar identitas yang kuat. Modernitas tidak boleh dibayar dengan kehilangan jati diri, dan religiusitas tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak kemajuan ilmu pengetahuan.

Dari “Carong” Menuju Manusia yang Bermartabat

Dalam khazanah masyarakat Aceh, kita mengenal istilah carong untuk menggambarkan seseorang yang cerdas atau pandai. Tetapi Hardikda ke-67 semestinya mengajak kita memperluas makna kecerdasan itu sendiri. Aceh tidak cukup hanya melahirkan generasi yang carong. Kita membutuhkan generasi yang carong, saleh, berkarakter, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Kecerdasan tanpa akhlak dapat menjadi kesombongan; ilmu tanpa integritas dapat menjadi alat manipulasi; teknologi tanpa etika dapat menjadi ancaman. Karena itu, pendidikan harus membangun keseimbangan antara kemampuan berpikir dan kematangan moral.

Anak-anak kita tidak hanya harus diajarkan bagaimana memperoleh jawaban, tetapi juga bagaimana mengajukan pertanyaan yang benar. Mereka tidak hanya harus diajarkan bagaimana memenangkan kompetisi, tetapi juga bagaimana menggunakan kemenangan itu untuk memberi manfaat.

Guru dan Orang Tua: Dua Ruang Pertama Pembentukan Manusia

Di tengah perubahan zaman, kita tidak boleh lupa bahwa pendidikan pertama seorang anak tidak dimulai di sekolah, melainkan di rumah. Sebelum mengenal guru, anak mengenal orang tua. Sebelum membaca buku, ia membaca perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Karena itu, pendidikan karakter tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Guru dapat mengajarkan kejujuran, tetapi keluarga harus memberikan contoh kejujuran. Guru dapat mengajarkan disiplin, tetapi lingkungan harus membiasakan disiplin.

Guru dapat mengajarkan agama, tetapi anak membutuhkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, guru juga harus ditempatkan sebagai aktor strategis pendidikan, bukan sekadar pelaksana kurikulum. Ketika guru dihormati, keluarga terlibat, sekolah terbuka, dan masyarakat peduli, pendidikan memiliki ekosistem yang memungkinkan manusia tumbuh secara utuh.

Tantangan Baru: Anak Aceh di Tengah Ledakan Informasi

Generasi hari ini menghadapi persoalan yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi ketika Darussalam didirikan. Dahulu tantangan utama adalah bagaimana mendapatkan ilmu. Kini tantangannya adalah bagaimana menyaring ilmu dari banjir informasi. Anak-anak hidup bersama media sosial, mesin pencari, kecerdasan buatan, video pendek, dan berbagai bentuk informasi tanpa batas.

Persoalannya bukan lagi apakah informasi tersedia, tetapi apakah mereka mampu membedakan fakta dari manipulasi, pengetahuan dari opini, dan kebebasan dari tanggung jawab. Karena itu, pendidikan Aceh harus memasuki tahap baru: membangun literasi digital, literasi informasi, literasi agama, dan literasi budaya secara bersamaan. Anak yang cerdas pada era digital bukanlah anak yang mengetahui segala sesuatu, melainkan anak yang mampu bertanya, memverifikasi, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Jangan Sampai Generasi Kita Mengenal Dunia, tetapi Tidak Mengenal Dirinya

Globalisasi bukan musuh pendidikan Aceh. Dunia justru harus dibuka seluas-luasnya bagi generasi muda. Mereka harus mampu berbahasa asing, menguasai teknologi, memahami ekonomi global, menguasai sains, dan bersaing dengan siapa pun. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang: kesadaran tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Jangan sampai anak Aceh hafal berbagai tokoh dunia tetapi tidak mengenal ulama dan cendekiawan daerahnya.

Jangan sampai ia menguasai budaya global tetapi menganggap bahasa daerah sebagai sesuatu yang memalukan. Jangan sampai ia mengetahui sejarah bangsa lain tetapi tidak memahami perjalanan sejarah masyarakatnya sendiri. Pendidikan yang baik bukan mencabut akar agar pohon tumbuh tinggi. Pendidikan yang baik memperkuat akar agar pohon mampu tumbuh lebih tinggi tanpa tumbang ketika diterpa angin zaman.

Dari Indra Makmu, Kita Bicara tentang Keadilan Pendidikan

Sebagai seseorang yang menjalankan amanah di Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, saya melihat bahwa pembicaraan tentang pendidikan tidak boleh hanya berlangsung di pusat-pusat kota. Masa depan Aceh juga tumbuh di gampong-gampong, di wilayah perkebunan, di kawasan pedalaman, di sekolah-sekolah yang mungkin jauh dari pusat pemerintahan.

Anak-anak di daerah memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan mendapatkan pendidikan bermutu. Karena itu, pemerataan pendidikan bukan sekadar persoalan membangun gedung, tetapi memastikan kualitas guru, akses teknologi, lingkungan belajar, pendidikan agama, kesempatan melanjutkan pendidikan, serta dukungan keluarga dan masyarakat. Tidak boleh ada seorang anak kehilangan masa depan hanya karena ia lahir jauh dari pusat kota. Keadilan pendidikan adalah bagian dari keadilan sosial.

Hardikda Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Cermin

Karena itu, memperingati Hardikda seharusnya membuat kita berhenti sejenak dari rutinitas dan bertanya dengan jujur: apa yang sebenarnya sedang kita bangun? Apakah kita sedang membangun sistem pendidikan yang hanya mengejar angka, peringkat, sertifikat, dan statistik? Ataukah kita sedang membangun manusia yang memiliki kemampuan untuk menghadapi masa depan? Pertanyaan ini penting karena pendidikan adalah investasi yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua tahun.

Sebuah jalan dapat selesai dalam hitungan bulan, sebuah gedung dapat berdiri dalam hitungan tahun, tetapi membentuk manusia membutuhkan generasi. Karena itu, kebijakan pendidikan harus berpikir melampaui siklus anggaran dan kepentingan jangka pendek. Pendidikan adalah pekerjaan lintas generasi. Kesalahan kita hari ini mungkin baru terlihat dampaknya dua puluh tahun mendatang; demikian pula investasi pendidikan hari ini mungkin baru dipanen oleh anak cucu kita.

Kembali kepada Pesan Tugu Pena

Mungkin itulah sebabnya kenangan Ospek bertahun-tahun lalu tentang Tugu Pena kembali terasa begitu relevan pada Hardikda ke-67. Dulu kami hanya berdiri sebagai mahasiswa baru yang tidak mampu menjawab pertanyaan mentor. Kami tidak menyadari bahwa kalimat yang terpahat di sebuah tugu sebenarnya sedang berbicara tentang perjalanan hidup kami sendiri. “Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar.” Hari ini saya membacanya dengan perspektif yang berbeda. Belajar ternyata bukan persiapan untuk hidup; belajar adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Berjuang bukan akhir dari pendidikan; perjuangan justru menjadi ruang tempat ilmu diuji dan karakter ditempa. Maka orang yang berhenti belajar akan kehilangan kemampuan memahami perubahan, sementara orang yang berhenti berjuang akan kehilangan kesempatan mengubah keadaan.

Pena, Perjuangan, dan Masa Depan Aceh

Pena pada akhirnya bukan hanya simbol orang yang berpendidikan. Pena adalah simbol keberanian untuk menuliskan masa depan. Tetapi setiap tulisan memiliki konsekuensi: apa yang kita tulis hari ini akan dibaca oleh generasi setelah kita. Begitu pula dengan kebijakan pendidikan yang kita buat, sekolah yang kita bangun, guru yang kita didik, karakter yang kita tanamkan, dan budaya yang kita wariskan. Semuanya akan menjadi bagian dari sejarah.

Karena itu, generasi hari ini memiliki tanggung jawab moral untuk tidak sekadar menjadi pewaris pendidikan Aceh, tetapi juga menjadi penjaga dan pembaharu cita-citanya. Kita tidak harus mengulang cara para pendahulu berjuang, tetapi kita wajib meneruskan keberanian mereka untuk menjadikan pendidikan sebagai jalan perubahan.

Darussalam Bukan Sekadar Tempat, Ia Adalah Cita-Cita

Pada akhirnya, Hardikda ke-67 membawa kita kembali kepada satu kesadaran: Aceh tidak pernah kekurangan sejarah tentang pendidikan; yang harus kita pastikan adalah pendidikan itu tetap memiliki arah peradaban. Darussalam telah mengajarkan bahwa pendidikan membutuhkan keberanian untuk bermimpi. Tugu Pena mengajarkan bahwa ilmu harus berjalan bersama perjuangan. Dayah dan meunasah mengajarkan bahwa ilmu harus berakar pada nilai.

Sekolah dan perguruan tinggi mengajarkan pentingnya pengetahuan dan nalar. Sementara zaman digital menuntut kita untuk menambahkan kemampuan baru: adaptasi, kreativitas, literasi teknologi, dan berpikir kritis. Semua itu harus bertemu dalam satu tujuan: membangun manusia Aceh yang berilmu, beriman, berbudaya, berintegritas, dan bermartabat.

Penutup: Jangan Biarkan Pena Itu Hanya Menjadi Monumen

Barangkali sudah waktunya kita membaca kembali Tugu Pena, bukan hanya sebagai benda yang berdiri di persimpangan jalan, tetapi sebagai cermin perjalanan pendidikan Aceh. Dahulu, kami sebagai mahasiswa baru bahkan tidak mengetahui pesan yang tertulis di sana. Hari ini, setelah perjalanan waktu, kalimat itu justru terasa semakin keras mengetuk kesadaran: “Belajar Sambil Berjuang, Berjuang Sambil Belajar.” Ia mengingatkan bahwa ilmu tanpa perjuangan adalah kemewahan yang tidak selesai, sementara perjuangan tanpa ilmu adalah keberanian yang mudah kehilangan arah.

Aceh membutuhkan keduanya. Sebab masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi oleh generasi yang memiliki pengetahuan, keberanian, akhlak, dan kesediaan untuk mengabdikan hidupnya bagi kemaslahatan.

Maka pada Hari Pendidikan Daerah Aceh ke-67, mari kita tidak hanya bertanya berapa banyak sekolah telah dibangun, berapa banyak anak telah lulus, atau berapa banyak prestasi telah diraih. Mari bertanya lebih jauh dan lebih jujur: manusia seperti apa yang sedang kita lahirkan?

Jika pendidikan melahirkan manusia yang cerdas tetapi kehilangan nurani, kita telah kehilangan arah. Jika pendidikan melahirkan manusia yang religius tetapi takut berpikir, kita telah kehilangan daya. Jika pendidikan melahirkan manusia yang modern tetapi malu terhadap identitasnya, kita telah kehilangan akar.

Namun jika pendidikan mampu melahirkan manusia yang berilmu sekaligus beriman, kritis sekaligus beradab, modern sekaligus berbudaya, unggul sekaligus rendah hati, maka sesungguhnya kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mendidik anak.

Kita sedang membangun peradaban.

Dan mungkin, pada akhirnya, itulah pesan yang sejak dahulu ingin disampaikan oleh Tugu Pena kepada kita—pesan yang dulu tidak mampu kami jawab ketika Ospek:

BELAJAR SAMBIL BERJUANG

BERJUANG SAMBIL BELAJAR.

Selamat Hari Pendidikan Daerah Aceh ke-67.

2 September 2026

Karena pena boleh menjadi monumen, tetapi ilmu harus menjadi gerakan; perjuangan boleh menjadi sejarah, tetapi pendidikan harus menjadi masa depan.

Mulyadi, SH.I, M.Sos
Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu
Kabupaten Aceh Timur.

Tags: agamaBudayaperjuanganSebuah refleksi tentang ilmutanggung jawab generasi Aceh
SendShare197Tweet123Share
ADVERTISEMENT

Berita Lainnya

Disporapar Resmikan Pokdarwis Situs Cagar Budaya Kerajaan Islam Samudera Pasai

Disporapar Resmikan Pokdarwis Situs Cagar Budaya Kerajaan Islam Samudera Pasai

by Fazil
17 Desember 2024
0
1.4k

Acehvoice.net, Aceh Utara - Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten...

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kapan PPPK 2024 dibuka? Berikut Penjelasan Menpan-RB

Operator Layanan Operasional PPPK: Peran, Tanggung Jawab, dan Keterampilan yang Dibutuhkan

4 September 2024
Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

Tugas Operator Layanan Kesehatan: Kualifikasi dan Estimasi Gaji

28 Agustus 2024
Vidu AI Studio: Solusi Cerdas untuk Pembuatan dan Pengeditan Video

Vidu Studio: Tutorial Menggunakan Langkah demi Langkah

26 Agustus 2024
PPPK Bisa Ikut Seleksi CASN Agustus 2024

Jadwal Lengkap Seleksi CPNS 2024 Diumumkan

1

Final, DPP PA Tetapkan Al-Farlaky Calon Bupati Aceh Timur

1
Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

Cara Memesan Penerbangan melalui Traveloka: Panduan Lengkap

1
Taman Kota Laboratorium Karakter Anak-Anak

Taman Kota Laboratorium Karakter Anak-Anak

2 September 2026
Hardikda ke-67 dan Jalan Panjang Pendidikan Aceh: Dari Tugu Pena, Darussalam, hingga Masa Depan Peradaban

Hardikda ke-67 dan Jalan Panjang Pendidikan Aceh: Dari Tugu Pena, Darussalam, hingga Masa Depan Peradaban

2 September 2026
PP HIMMAH Tunjuk Umar Banta Ali Sebagai Plt Ketua PW HIMMAH Aceh, Siap Sukseskan Konferwil 2026-2030

PP HIMMAH Tunjuk Umar Banta Ali Sebagai Plt Ketua PW HIMMAH Aceh, Siap Sukseskan Konferwil 2026-2030

2 September 2026
ADVERTISEMENT
acevoice.net

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Menu Navigasi

  • Redaksi
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Pedoman Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Daerah
  • Opini
  • Budaya
    • Wisata
  • Hukum
    • Kriminal
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Sosial
    • Ekonomi
    • Pendidikan
  • Gadget
  • CASN

Copyright © 2021 - 2025 acehvoice.net
All right reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In