acehvoice.net – Banda Aceh – Suasana Taman Putroe Phang, Banda Aceh, dipenuhi semangat dan keceriaan saat Pemerintah Kota Banda Aceh memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Minggu (2/8/2026). Peringatan tersebut menjadi momentum bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal.
Dalam dialog yang berlangsung hangat, perwakilan anak-anak membacakan “Suara Anak Kota Banda Aceh Tahun 2026”, yang berisi delapan rekomendasi kepada pemerintah untuk memperkuat perlindungan hak anak dan mewujudkan Banda Aceh sebagai kota yang semakin ramah anak.
Berbagai aspirasi yang disampaikan meliputi penguatan pendidikan keterampilan bagi anak, peningkatan sosialisasi bahaya narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA), perluasan layanan konseling kesehatan mental, hingga pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan media sosial dan konten negatif di internet.
Selain itu, anak-anak juga meminta pemerintah meningkatkan upaya pencegahan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah serta memperketat pengawasan terhadap situs ilegal dan penjualan rokok kepada anak di bawah umur.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menyambut baik berbagai aspirasi tersebut. Ia menegaskan bahwa suara anak merupakan bagian penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah karena anak-anak adalah generasi penerus yang harus diberikan ruang untuk menyampaikan pendapat.
“Anak-anak harus tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, mendapatkan perlindungan, serta memperoleh kesempatan mengembangkan potensi terbaiknya. Jika mereka tumbuh dengan cinta dan perhatian, mereka juga akan menjadi pribadi yang mampu menebarkan kasih sayang kepada orang lain,” ujar Illiza.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini semakin kompleks. Selain persoalan pendidikan, mereka juga menghadapi ancaman perundungan, kekerasan, penyalahgunaan teknologi digital, hingga gangguan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.
Karena itu, Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat berbagai program perlindungan anak melalui regulasi, edukasi, pendampingan, serta kolaborasi dengan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Illiza menjelaskan, pemerintah juga terus memetakan berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak, termasuk dampak perkembangan teknologi terhadap kondisi psikologis mereka. Menurutnya, pendidikan karakter di sekolah harus berjalan seiring dengan penguatan peran keluarga melalui program parenting agar anak mendapatkan pendampingan yang optimal, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah.
“Kami ingin membangun lingkungan yang lebih aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan terhadap anak. Semua pihak memiliki tanggung jawab untuk mewujudkannya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Illiza juga mengimbau anak-anak agar tidak takut melaporkan apabila menjadi korban kekerasan, perundungan, maupun bentuk pelanggaran hak anak lainnya. Ia memastikan Pemerintah Kota Banda Aceh telah menyediakan layanan pendampingan, termasuk konseling psikologis dan deteksi dini melalui puskesmas yang dapat diakses oleh anak-anak beserta keluarganya.
Menurut Illiza, keberanian untuk melapor menjadi langkah penting agar setiap kasus dapat ditangani dengan cepat sehingga anak memperoleh perlindungan yang layak.
Menutup kegiatan, Illiza berharap peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam memenuhi hak-hak anak.
Ia optimistis, melalui sinergi antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat, Banda Aceh mampu mencetak generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual yang kuat, serta siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045.


























