Acehvoice.net – China menyatakan komitmennya untuk terus menggunakan jalur diplomasi dalam menangani masalah nuklir Iran, berbeda dengan pendekatan agresif yang diambil Amerika Serikat (AS).
Dalam sebuah pernyataan resmi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa masalah nuklir Iran kini berada di persimpangan penting yang bisa berisiko eskalasi, namun juga memberikan peluang bagi penyelesaian melalui dialog.
Guo menekankan bahwa China akan terus mendorong pembicaraan untuk perdamaian dan memperjuangkan dimulainya kembali negosiasi yang dapat menghasilkan solusi yang adil dan berkelanjutan.
Pendekatan ini berfokus pada diplomasi dan politik, yang menurut China, adalah satu-satunya cara yang tepat untuk menyelesaikan isu nuklir Iran.
Sementara itu, Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Presiden Donald Trump, mengambil pendekatan yang lebih keras. Pada akhir Maret 2025, Trump mengancam akan membom Iran jika negara tersebut tidak setuju untuk membatasi program nuklirnya.
Ancaman ini datang setelah surat yang dikirimkan oleh Trump melalui utusan Uni Emirat Arab kepada Iran, menawarkan pembicaraan mengenai program nuklir mereka. Iran pun menanggapi surat tersebut melalui perantara Oman, menyatakan kesiapan untuk mengadakan pembicaraan tidak langsung dengan AS.
Kebijakan keras Trump ini berakar pada keputusan AS yang menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), yang mengatur batasan-batasan ketat terhadap program nuklir Iran dengan imbalan keringanan sanksi. Setelah menarik diri dari kesepakatan itu, AS mengembalikan sanksi yang lebih luas terhadap Iran, yang memicu ketegangan lebih lanjut.
China, dalam pertemuan yang diselenggarakan di Beijing pada awal April 2025, mengajukan lima poin penting untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran. Poin-poin tersebut mencakup upaya untuk mengembalikan Iran ke dalam kesepakatan JCPOA dan mengharapkan AS untuk menunjukkan ketulusan politik dalam memulai kembali pembicaraan.
China mengingatkan bahwa penerapan sanksi, tekanan, dan ancaman militer tidak akan membawa hasil yang diinginkan. Guo Jiakun menyatakan bahwa solusi yang konstruktif dan diplomatik diperlukan untuk menciptakan kondisi yang mendukung dimulainya kembali dialog dan menyelesaikan masalah secara damai.
Sementara itu, meskipun Trump terus mengeluarkan ancaman tegas, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa Iran tidak terlalu khawatir dengan ancaman tersebut. Ia menegaskan bahwa jika ada tindakan jahat yang dilakukan, Iran akan memberikan respons yang tegas.
Ke depan, China akan terus mendorong untuk menciptakan konsensus internasional yang dapat mengakomodasi kekhawatiran semua pihak, mendukung rezim nonproliferasi nuklir, dan menjaga perdamaian serta stabilitas di kawasan Timur Tengah.