acehvoice.net — Banda Aceh — Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (MPM USK) menyayangkan sikap Majelis Wali Amanat (MWA) perwakilan mahasiswa yang tidak hadir dalam Forum Koordinasi Seluruh Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) Universitas Syiah Kuala, serta tidak melakukan advokasi dan turun langsung ke mahasiswa.
Forum ini dibentuk oleh Dewan perwakilan Mahasiswa (DPM) beberapa waktu lalu dengan tujuan untuk menyelaraskan dan mengeratkan kebersamaan dalam agenda gerakan.
Namun MWA perwakilan mahasiswa tidak hadir tapi hadir dalam agenda rektorat terkait Pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala. Hal tersebut disampikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) USK, Muhammad Farhan pada Jum’at, 23 Januari 2025 di Banda Aceh.
Forum koordinasi Ormawa merupakan ruang konsolidasi strategis mahasiswa untuk membahas isu-isu penting kampus, termasuk menyikapi agenda besar universitas seperti Pemilihan Rektor.
Menurut Farhan, Ketidakhadiran MWA perwakilan mahasiswa dalam forum tersebut dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap tanggung jawab advokasi dan representasi mahasiswa.
“MWA perwakilan mahasiswa yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa, memiliki kewajiban moral dan struktural untuk hadir, mendengar, serta menyerap aspirasi Ormawa sebelum terlibat dalam agenda-agenda strategis di tingkat rektorat (pemilihan rektor),” sebutnya
Farhan menilai bahwa kehadiran dalam agenda Pemilihan Rektor tanpa didahului konsolidasi dan advokasi internal mahasiswa berpotensi melemahkan posisi tawar mahasiswa serta mencederai prinsip demokrasi kampus.
“MWA perwakilan mahasiswa seharusnya menjadi jembatan aspirasi, bukan sekadar pelengkap dalam agenda struktural universitas,” tegasnya
Lebih lanjut, Farhan menegaskan bahwa legitimasi MWA perwakilan mahasiswa dalam forum-forum strategis universitas harus bersumber dari aspirasi mahasiswa secara luas yang dihimpun melalui dialog dan koordinasi aktif dengan seluruh Ormawa.
“Kami mendesak MWA perwakilan mahasiswa untuk segera melakukan evaluasi sikap, membuka ruang advokasi yang inklusif, serta kembali menempatkan kepentingan dan suara mahasiswa sebagai prioritas utama,” ucap Farhan
Ia juga mengajak seluruh lembaga kemahasiswaan Universitas Syiah Kuala untuk tetap menjaga semangat solidaritas, kritisisme, dan konsolidasi demi memastikan proses demokrasi kampus berjalan secara partisipatif, transparan, dan berpihak pada mahasiswa.






















