acehvoice.net – Aceh Timur – Aceh Timur kembali menghadapi bencana banjir setelah hujan deras disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis, 20 November 2025. Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, empat kecamatan telah terendam banjir dan sejumlah masyarakat mulai mengungsi untuk menghindari risiko.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Timur, Ashadi, menyampaikan bahwa hingga Minggu, enam kepala keluarga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun tetangga karena tempat tinggal mereka terendam air. Para pengungsi tersebut berasal dari Kecamatan Simpang Ulim, khususnya di Desa Pucok Alue Sa dan Keude Tuha. Tinggi air di wilayah terdampak berkisar antara 10 hingga 50 sentimeter.
Banjir yang terjadi turut merendam puluhan rumah warga di berbagai desa di Kecamatan Simpang Ulim. Di Desa Peulalu, sebanyak 21 rumah terendam, Keude Tuha 6 rumah, Desa Blang 30 rumah, Desa Pucok Alue Dua 6 rumah, Pucok Alue Sa 30 rumah, serta Pucok Alue Barat 30 rumah. Kondisi ini terus berkembang seiring tingginya curah hujan yang masih terjadi hingga saat ini.
Di Kecamatan Nurussalam, banjir dilaporkan menggenangi area persawahan sehingga berpotensi mengganggu aktivitas pertanian warga. Sementara itu, di Kecamatan Madat dan Idi Rayeuk, petugas BPBD masih melakukan pendataan untuk memastikan jumlah rumah dan fasilitas yang terdampak.
Selain banjir, angin kencang juga menyebabkan satu unit rumah warga di Kecamatan Simpang Ulim, Desa Keude Tuha, mengalami kerusakan berat. BPBD menyebutkan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi terus berlangsung sehingga penanganan dan pemantauan dilakukan secara intensif.
Ashadi mengimbau warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, terutama di sepanjang daerah aliran sungai, agar tetap siaga dan segera menyelamatkan diri apabila ketinggian air meningkat. Ia juga meminta masyarakat untuk segera melapor kepada aparat desa atau BPBD jika terjadi situasi darurat yang membahayakan keselamatan.
“Kami mengingatkan masyarakat di sekitar sungai untuk selalu waspada. Luapan air bisa terjadi kapan saja, dan keselamatan harus menjadi prioritas,” ujar Ashadi.
Pemerintah daerah bersama tim BPBD terus melakukan pemantauan lapangan dan menyiapkan langkah-langkah penanganan untuk mengurangi dampak banjir yang meluas di Aceh Timur.


























